Menolak Meminjamkan Uang pada Saudara Bagaimana Hukumnya? Ternyata dalam Islam Hal Itu...
- pixabay
tvOnenews.com - Dalam ajaran Islam, umat muslim dianjurkan untuk saling membantu dan berbagi kebaikan, terutama kepada kerabat terdekat.
Namun dalam praktiknya, kondisi tidak selalu berjalan mulus.
Ada kalanya seseorang dihadapkan pada dilema ketika saudaranya sering meminjam uang tetapi belum melunasi pinjaman sebelumnya.
- pexels.com/bangunstockproduction
Situasi seperti ini membuat sebagian orang enggan membantu kembali karena merasa dikecewakan.
Lalu bagaimana pandangan Islam terkait hal ini? Simak penjelasan Buya Yahya berikut yang disampaikan melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV pada 8 Oktober 2021.
Dahulukan Kerabat, tapi Sesuai Kebutuhan
Buya Yahya menegaskan pentingnya mendahulukan membantu keluarga sebelum orang lain.
“Kalau ada seseorang berderma ke pondok pesantren, tapi dia membiarkan saudaranya terlantar, Nabi tidak mengajarkan seperti itu,” kata Buya Yahya.
Artinya, Islam mengajarkan agar kita memprioritaskan kerabat terlebih dahulu, namun sebatas pada kebutuhan yang benar-benar mendesak atau penting.
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
Melihat Kondisi yang Sebenarnya
Menurut Buya Yahya, saat ada saudara yang meminjam uang, kita perlu menilai dulu apakah ia memang betul-betul membutuhkan atau tidak.
“Dia benar-benar membutuhkan atau tidak,” tegas Buya Yahya.
Jika yang membutuhkan adalah anggota keluarga dekat atau anak-anaknya, maka bantuan tetap perlu diberikan, meski orang tuanya sering berbohong atau gagal melunasi pinjaman.
“Kalau Anda melihat, Anda tahu bahwa keponakan-keponakan Anda membutuhkan, terlepas orang tuanya berbohong atau tidak, harus dibantu,” kata Buya Yahya.
Cara Membantu Bisa Berbeda
Buya Yahya menyarankan, bantuan tidak selalu berupa uang. Bisa juga berupa barang sesuai kebutuhan mendesak.
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
“Kalau dia butuh makan, maka belikan beras, ikan dan sebagainya. Atau jika perlu Anda pesankan nasi bungkus setiap hari,” kata Buya Yahya.
Dengan cara ini, kita tetap menolong sesuai kebutuhan nyata tanpa khawatir uang digunakan untuk hal lain.
Memahami Kondisi Orang yang Kesulitan
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa orang fakir seringkali tidak bermaksud berbohong, tetapi karena benar-benar tidak mampu membayar utang sehingga terpaksa berjanji.
Ini dilakukan lantaran malu atau takut jika bicara terus terang.
Bahkan beliau menegaskan prinsipnya secara tegas:
“Kami tidak bangga jika ada orang berderma kepada kami (ke Pondok Pesantren) tapi keluarganya terlantar. Itu berarti karena hawa nafsu,” kata Buya Yahya.
- Pexels/Photo By: Kaboompics.com
Jadi, menolak meminjamkan uang kepada saudara tidak serta-merta salah menurut Islam, asalkan kita sudah menilai situasi dengan bijak.
Jika saudara benar-benar membutuhkan, tetaplah membantu, meski bentuknya bukan uang tunai.
Islam mengajarkan keseimbangan antara memberi pertolongan dan menjaga hak diri sendiri agar tetap adil dan bermanfaat. (gwn)
Load more