Tafsir Juz Amma: Surah At-Tin, Penjelasan Ustaz Firanda Andirja
- Freepik
Jakarta, tvOnenews.com – Surat At-Tin merupakan surat ke-95 dalam Al-Qur’an dan termasuk surat Makkiyah yang turun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Surat ini memiliki kandungan akidah yang sangat dalam, terutama terkait kemuliaan penciptaan manusia, tauhid, dan kepastian hari pembalasan.
Ustadz Dr. Firanda Andirja menjelaskan bahwa Surat At-Tin pernah dibaca Rasulullah SAW saat shalat Isya dalam perjalanan, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim.
- Tangkapan/Ustaz Firanda Andirja Official
Hal ini menunjukkan keutamaan dan kedalaman makna surat tersebut.
Sumpah Allah dengan Makhluk Pilihan
Surat At-Tin dibuka dengan empat sumpah Allah SWT:
- Demi buah tin
- Demi buah zaitun
- Demi Bukit Tursina
- Demi negeri yang aman (Mekkah)
Menurut Ustadz Firanda, Allah hanya bersumpah dengan makhluk yang memiliki keistimewaan. Buah tin dan zaitun dikenal memiliki banyak manfaat, mudah diperoleh, dan penuh keberkahan. Keduanya juga banyak disebut dalam Al-Qur’an.
Sementara itu, Bukit Tursina merupakan tempat Nabi Musa AS diajak berbicara langsung oleh Allah, dan Kota Mekkah adalah negeri suci tempat diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Rangkaian sumpah ini menunjukkan kesinambungan dakwah para nabi yang seluruhnya menyeru kepada tauhid.
Manusia Diciptakan dalam Bentuk Paling Sempurna
Allah SWT kemudian menegaskan:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
Ayat ini, kata Ustadz Firanda, merupakan bantahan terhadap teori evolusi Darwin yang menyatakan manusia berasal dari makhluk lain. Islam menegaskan bahwa Nabi Adam AS diciptakan langsung oleh Allah dalam bentuk paling sempurna, bahkan dengan kedua tangan-Nya.
Manusia diberi bentuk yang indah, tegak, akal yang cerdas, dan kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain. Semua itu adalah tanda kebesaran Allah SWT.
Dua Tafsir “Asfala Safilin”
Allah kemudian berfirman bahwa manusia bisa dikembalikan ke tempat yang paling rendah (asfala safilin). Para ulama memiliki dua penafsiran:
Neraka Jahannam, bagi manusia yang kufur dan menyalahgunakan nikmat Allah.
Kondisi lemah dan pikun di usia tua, ketika kekuatan dan kemampuan manusia menurun drastis.
Load more