Tafsir Juz Amma Surat Al-Adiyat, Penjelasan Ustaz Firanda Andirja
- tim tvOne
tvOnenews.com — Surat Al-Adiyat menjadi salah satu surat dalam Juz Amma yang sarat dengan pesan peringatan dan renungan mendalam bagi manusia.
Dalam kajiannya, Ustaz Firanda Andirja menjelaskan bahwa Al-Adiyat secara bahasa berarti kuda-kuda yang berlari kencang, khususnya kuda perang yang digunakan dalam pertempuran.
Allah SWT membuka surat ini dengan sumpah, “Wal ‘adiyati dhabha,” yang menggambarkan kuda-kuda yang terengah-engah saat berlari cepat.

- Tangkapan/Ustaz Firanda Andirja Official
Menurut Ustaz Firanda, sumpah ini bukan tanpa makna. Allah ingin menunjukkan betapa besar jasa makhluk-Nya yang hanya diberi sedikit perhatian dan makanan, namun mampu memberikan pengorbanan luar biasa kepada tuannya.
Kuda-kuda tersebut, lanjutnya, rela berlari hingga terengah-engah, menerjang medan perang, bahkan terluka oleh pedang, semata-mata karena kepatuhan kepada pemiliknya.
Padahal, yang mereka terima hanyalah perawatan dan makanan sekadarnya.
Hal ini, kata Ustaz Firanda, menjadi perbandingan yang sangat tajam dengan manusia. Sebab manusia telah diberi begitu banyak nikmat oleh Allah SWT, mulai dari akal, kecerdasan, rezeki, hingga berbagai fasilitas kehidupan.
Namun ironisnya, banyak manusia justru lalai dan tidak bersyukur kepada Rabb-nya.
Dalam tafsir ayat-ayat selanjutnya, para ulama memang berbeda pendapat terkait makna “Al-Adiyat”.
Ibnu Mas’ud menafsirkan Al-Adiyat sebagai kuda-kuda perang, sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa yang dimaksud adalah unta-unta yang membawa jamaah haji menuju manasik.
Perbedaan pendapat ini, menurut Ustaz Firanda, termasuk dalam khilaf tanawwu’, yakni perbedaan tafsir yang semuanya bisa dibenarkan.
Baik kuda maupun unta, keduanya adalah hewan yang memiliki jasa besar bagi manusia.
Ayat “falmuriyati qadha” dipahami sebagai gambaran percikan api yang muncul ketika tapal kuda menghantam bebatuan saat berlari kencang.
Hal ini menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud adalah kuda perang. Namun, bagi yang menafsirkan sebagai unta, percikan api itu bisa berasal dari batu-batu yang saling beradu akibat injakan kaki unta.
Begitu pula ayat “falmughirati subha,” yang menggambarkan serangan di waktu pagi. Dalam tafsir kuda, ayat ini merujuk pada strategi perang di waktu subuh saat musuh lengah.
Sedangkan dalam tafsir unta, ayat ini dimaknai sebagai perjalanan jamaah haji dari Muzdalifah menuju Mina pada pagi hari.
Semua sumpah ini, tegas Ustaz Firanda, bertujuan untuk menekankan satu hal penting, yakni peringatan Allah kepada manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya, “Innal insaana li rabbihi lakanud.”
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Rabb-nya,” jelasnya. Manusia kerap lupa bersyukur, lebih mengingat kesulitan daripada nikmat, serta lalai dalam ibadah meski telah diberi karunia yang melimpah.
Ustaz Firanda mencontohkan, seseorang bisa hidup sehat bertahun-tahun, namun ketika sakit sebentar, yang diingat hanyalah penderitaan, bukan nikmat kesehatan yang telah lama dirasakan. Sikap seperti inilah yang dicela dalam surat Al-Adiyat.
Allah juga menyebutkan bahwa manusia sangat mencintai harta. Dalam tafsir, kata “al-khair” dimaknai sebagai harta, karena orang Arab dahulu menganggap harta sebagai sumber segala kebaikan.
Masalahnya bukan pada kepemilikan harta, tetapi pada cinta yang berlebihan hingga melahirkan sifat kikir, lalai ibadah, dan bahkan terjerumus dalam maksiat.
Rasulullah SAW pun mengingatkan, “Celakalah hamba dinar dan dirham,” yakni orang yang menjadikan harta sebagai tujuan hidup dan seolah-olah menyembahnya.
Surat Al-Adiyat kemudian ditutup dengan peringatan tentang hari kebangkitan, ketika seluruh isi hati akan dibongkar dan ditampakkan. Tidak ada lagi yang tersembunyi, baik keikhlasan, kesombongan, iri, maupun niat buruk.
“Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui,” menegaskan bahwa balasan Allah dibangun di atas ilmu-Nya yang sempurna dan detail terhadap seluruh amal perbuatan manusia.
Melalui Surat Al-Adiyat, Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menjadi makhluk yang ingkar, cinta dunia secara berlebihan, dan lalai bersyukur.
Belajarlah dari kuda dan unta yang hanya diberi sedikit, namun mampu menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan luar biasa kepada tuannya.
Load more