Suami Minta Macam-Macam Gaya saat Berhubungan Intim, Haruskah Dituruti? Ketahui Batasannya Menurut Syariat Islam
- pixabay
“Yang menjadikan seorang pengen aneh-aneh itu apa sih? Mohon maaf, zamannya zaman rusak. Tontonan, film-film kotor,” ujarnya.
Buya Yahya menjelaskan bahwa tontonan haram tersebut merusak cara pandang seseorang terhadap pasangannya.
“Gara-gara film kotor yang dilihat, ingin dengan istrinya macam-macam, tidak akan menemukan kepuasan pada akhirnya,” tutur Buya Yahya.
Akibatnya, muncul perbandingan yang tidak sehat, hingga berujung pada ketidakpuasan terhadap pasangan sendiri.
Menghargai Perasaan Pasangan Adalah Kunci
Buya Yahya menegaskan bahwa hubungan intim bukan hanya soal halal dan haram, tetapi juga soal menjaga perasaan.
“Ada hal yang dalam hubungan suami istri kita harus menjaga perasaan pasangan. Yang tidak nyaman bagi dia, hendaknya kita hindari.”
Jika ada sesuatu yang membuat pasangan risih, tidak nyaman, atau terganggu, maka hal itu tidak pantas untuk dipaksakan.
“Yang dia tidak suka jangan dipaksakan,” tegas Buya Yahya.
Baik suami maupun istri diminta untuk saling introspeksi.
Ketidaknyamanan pasangan bisa jadi bukan soal penolakan, melainkan isyarat bahwa ada hal yang perlu diperbaiki, seperti kebersihan diri, aroma badan, atau cara pendekatan.
Boleh Mengimbangi, Tapi Bukan Meniru yang Haram
Dalam Islam, pasangan dianjurkan saling mengimbangi dan membahagiakan satu sama lain. Namun Buya Yahya memberi garis tegas tentang batasnya.
“Selagi itu halal dan sebagainya, berusahalah engkau untuk mengimbangi pasanganmu di dalam urusan irama, seni dalam bercinta,” ujar Buya Yahya.
“Bukan mengimbangi suami yang sering nonton film kotor. Nonton film kotor adalah bahaya secara psikologi juga, secara akhlak tidak baik,” lanjutnya.
Menurut Buya Yahya, pornografi justru akan merusak rumah tangga karena menumbuhkan khayalan yang tidak realistis dan membuka pintu keharaman lain, bahkan zina.
Pentingnya Mukadimah dan Adab Bermesraan
Islam sangat menekankan adab dalam hubungan intim. Bahkan Rasulullah SAW tidak menyukai hubungan yang dilakukan tanpa pendahuluan.
“Nabi Muhammad pun marah kalau ada seorang suami mendatangi istrinya seperti binatang, tidak pakai mukadimah,” kata Buya Yahya.
Mukadimah yang dimaksud adalah sikap lembut, rayuan, perhatian, serta menjaga kebersihan dan penampilan.
Load more