Shalat Id Lebih Afdal di Mana, Masjid atau Lapangan? Ini Kata Ustaz Abdul Somad
- pexels.com/@suryo-patriandito
tvOnenews.com - Hari Raya Idul Fitri umat Islam kerap dihadapkan pada pilihan lokasi pelaksanaan Shalat Id, apakah lebih utama dilakukan di masjid atau di tanah lapang.
Perbedaan ini sering memunculkan pertanyaan terutama karena praktik di berbagai daerah tidak selalu sama.
Menanggapi hal tersebut, Ustaz Abdul Somad memberikan penjelasan berdasarkan pandangan mazhab dalam Islam.
Ia menegaskan bahwa perbedaan ini bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan, karena masing-masing memiliki dasar dalil yang kuat.
Menurut Ustaz Abdul Somad, dalam mazhab Syafi’i, pelaksanaan Shalat Id yang paling baik adalah di masjid.
Hal ini didasarkan pada keutamaan masjid sebagai tempat ibadah yang paling mulia di muka bumi.
“Menurut mazhab Syafi'i yang paling bagua salat Id adalah di masjid,” jelasnya.
Namun, tiga mazhab lainnya yaitu Hanafi, Maliki, dan Hambali justru berpendapat bahwa Shalat Id lebih utama dilaksanakan di tanah lapang.
Pendapat ini merujuk pada kebiasaan Rasulullah SAW yang selama hidupnya selalu melaksanakan Shalat Id di lapangan terbuka.
“Tiga mazhab menyebut paling bagus tanah lapang sebab Nabi tidak pernah salat Id dalam masjid,” lanjutnya.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang ijtihad dalam praktik ibadah, selama masih berpegang pada dalil yang sahih.
Lebih lanjut, Ustaz Abdul Somad mengajak untuk memahami konteks sejarah pada masa Rasulullah SAW.
Ia menjelaskan bahwa Masjid Nabawi pada saat itu memiliki ukuran yang relatif kecil, sehingga tidak mampu menampung seluruh jamaah.
Masjid tersebut hanya berukuran sekitar 22 meter dari mimbar ke dinding rumah Nabi, dengan panjang ke belakang sekitar 15 meter.
Dengan ukuran tersebut, sangat sulit untuk menampung jumlah umat Islam yang semakin banyak.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Rasulullah SAW memilih melaksanakan Shalat Id di tanah lapang, agar seluruh umat bisa ikut serta tanpa terkendala kapasitas tempat.
Di sisi lain, mazhab Syafi’i memiliki pertimbangan yang berbeda.
Menurut UAS, Imam Syafi’i melihat bahwa masjid adalah tempat terbaik untuk beribadah, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis Nabi.
Selain itu, kondisi masjid pada masa Imam Syafi’i sudah jauh lebih besar dibandingkan pada masa Rasulullah SAW.
Salah satu contohnya adalah Masjid Amr bin Ash di Mesir, yang memiliki kapasitas luas untuk menampung jamaah.
Dengan kondisi tersebut, pelaksanaan Shalat Id di masjid menjadi lebih memungkinkan dan tetap dapat menampung banyak orang tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah.
Dalam praktiknya di masa sekarang, Ustaz Abdul Somad menilai bahwa umat Islam dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ada di lingkungan masing-masing.
Jika masjid memiliki kapasitas yang besar dan mampu menampung jamaah, maka melaksanakan Shalat Id di masjid tidak menjadi masalah.
Apalagi jika shaf jamaah masih tersambung hingga ke luar area masjid.
Sebaliknya, jika jumlah jamaah sangat banyak dan masjid tidak mencukupi, maka pelaksanaan di lapangan menjadi pilihan yang lebih tepat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Penjelasan ini sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan lokasi Shalat Id bukanlah persoalan benar atau salah, melainkan bagian dari kekayaan khazanah Islam yang memberikan kemudahan bagi umat dalam menjalankan ibadah sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada. (adk)
Load more