3 dari 10 Syarat Muslimah yang Kelak Menjadi Tetangga Rasulullah SAW di Surga
- Freepik/faizaminudin
tvOnenews - Masuk surga menjadi harapan dan tujuan akhir dari hidup setiap umat muslim, sehingga kita selalu berusaha melakukan amal soleh dan beribadah untuk bisa masuk di surganya Allah.
Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang ma’shum, beliau sudah sempurna dan dijaga. Setiap umat Islam mendambakan ingin dekat dengan Nabi Muhammad SAW, apalagi bila bisa bersama di Surga.
Nabi Muhammad SAW diutus bukan hanya untuk membimbing suatu kaum, melainkan untuk seluruh umat manusia. Dialah suri tauladan bagi semua orang terutama bagi kita sebagai umat Muslim.
Untuk bisa hidup kekal di surga bersama Rasulullah SAW tentu banyak persyaratan yang harus dilakukan. Dilansir dari laman Republika, Dr. Akram Ridha menguraikan hal tersebut lewat bukunya yang berjudul Wanita Tetangga Rasulullah SAW di Surga.

Freepik/nongsurachai
Dalam buku tersebut, Akram menyebutkan sedikitnya ada sepuluh akhlak yang harus dimiliki seorang wanita Muslimah yang ingin menjadi tetangga Rasulullah SAW kelak di surga. Antara lain, yang pertama mampu mencegah kejahatan.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda,
"Orang Muslim adalah orang yang selamat dari gangguan lidah dan tangannya." (Hadis riwayat Bukhari).
Mencegah kejahatan tak sekadar terhadap tetangga tetapi juga kepada lingkungan termasuk binatang yang ada di sekitarnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Seorang wanita disiksa dalam neraka karena kucing yang ia kurung mati kelaparan." Lalu beliau bersabda, "Wallahu "alam, kamu tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya. Kamu juga tidak melepaskannya agar ia bisa memakan serangga tanah."
Kedua, yang juga menjadi persyaratan mutlak agar seorang Muslimah menjadi tetangga Rasulullah SAW kelak di surga adalah memiliki rasa malu. Rasa malu merupakan perhiasan wanita yang paling indah.
Bahkan Rasulullah SAW menganggap malu sebagai cabang dari iman.
“Rasulullah bersabda bahwa cabang dari iman itu 70 atau 60. Cabang yang paling tinggi adalah Lailahaillah Muhammad Rasulullah, cabang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalanan. Dan Malu itu adalah bagian dari iman.” (HR Al Hakim pada Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari dan Muslim, begitu pula Adz-Dzahabi)
Yang membedakan Rasulullah SAW dengan yang lainnya adalah rasa malunya yang sangat tinggi. Orang yang sudah tidak memiliki rasa malu, maka ia akan berbuat sesukanya.
Dalam bertutur dan berbicara, seseorang yang mendambakan bisa menjadi tetangga Rasulullah SAW di surga kelak, menurut Akram, adalah wanita yang memiliki adab dan sopan santun ketika berbicara.
Bagaimana ia berbicara dengan anak-anak dan suaminya di rumah? Bagaimana ia berkomunikasi dengan masyarakat di sekelilingnya?
Ketika dialog menjadi simbol komunikasi antarmanusia, maka dalam agama Islam ia memiliki kaidah-kaidah dan adab serta sopan santun. Karena itulah pentingnya akhlak adab dalam berbicara.
Syarat ketiga yang menjadi salah satu kunci untuk bisa memasuki surga dan menjadi tetangga Rasulullah SAW kelak adalah menghindari dusta.
Dari Al Hasan bin 'Ali, Rasulullah SAW bersabda, “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Dusta merupakan pondasi kemunafikan dan dasar bagi tumbuhnya semua perilaku rusak. Bila Muslimah komitmen dengan akhlak ini, artinya tidak berdusta, maka hal itu akan menjadi jalan baginya untuk memiliki rumah di tengah surga. (viva/Mzn)
Load more