Media Korea Ikut Soroti Junaida Santi, Singgung Masalah Gender dan Absen Bela Timnas Voli Putri Indonesia di Asian Games 2026
- Volleyballworld.com
Jakarta, tvOnenews.com - Media Korea Selatan turut menyoroti absennya Junaida Santi dari Timnas Voli Putri Indonesia yang akan berlaga di Asian Games 2026. Pemain yang menyandang status MVP Proliga 2025 tersebut disebut belum dapat tampil di kompetisi internasional karena persoalan pemeriksaan jenis kelamin.
Media Korea, Exportnews, mengutip artikel salah satu media Indonesia pada 7 September 2026. Dalam laporan itu disebutkan bahwa pihak PBVSI memberikan penjelasan mengenai alasan Junaida Santi belum bisa memperkuat Indonesia pada sejumlah ajang internasional.
Media asing tersebut menyebutkan bahwa padahal Junaida Santi merupakan salah satu prospek pemain muda yang mencuri perhatian di kompetisi domestik Indonesia.
Pasalnya, ia berhasil menyabet penghargaan MVP di Proliga 2025, kemudian Santi juga merupakan salah satu andalan di Timnas Voli Putri Indonesia.
Akan tetapi, nama Santi kemudian menjadi atensi usai PBVSI mengumumkan 12 pemain yang dipersiapkan untuk menghadapi sejumlah ajang internasional, termasuk Asian Games 2026.
Berdasarkan nama pemain yang dirilis oleh federasi, tidak ada nama Santi meskipun Timnas Voli Putri Indonesia akan berpartisipasi di Asian Games 2026 pada 19 September mendatang.
Kemudian Xportnews juga membahas pernyataan Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBVSI, Loudry Maspaitella di Podcast Volley360. Saat itu Loudry menjelaskan situasi Santi yakni pemeriksaan jenis kelamin.
Loudry Maspaitella disebut menegaskan bahwa Santi tidak sedang mendapatkan hukuman akibat suatu pelanggaran. Menurut penjelasan yang dikutip media Korea tersebut, kendala yang dihadapi Santi berkaitan dengan pemeriksaan yang diperlukan untuk tampil di kompetisi internasional.
"Di tengah situasi tersebut, Loudry Maspaitella selaku Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBVSI, menjelaskan kondisi Santi. Ia mengatakan, "Masalah Santi hanya satu, yaitu pemeriksaan jenis kelamin," dan menjelaskan bahwa Santi tidak sedang menerima hukuman, tetapi tidak dapat mengikuti kompetisi internasional karena tidak bersedia menjalani pemeriksaan jenis kelamin." tulis media Korea tersebut.
Sementara itu, Loudry Maspaitella dalam podcats tersebut juga menjelaskan bahwa Junaida Santi tetap dibutuhkan oleh Timnas Voli Putri Indonesia dan hingga saat ini tidak ada sanksi yang diberikan kepada pevoli tersebut.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi Santi berkaitan dengan prosedur pemeriksaan gender yang menjadi perhatian dalam kompetisi internasional.
"Untuk Santi sejak dia eksis di 2022 Princess Cup U-17 dia sudah disorot gitu. Setelah itu dia pulang dia pernah ikut AVC Putri ke Manila dan semakin disorot itu puncaknya di U-20 kejuaraan dunia karena case-nya timnas Vietnam senior dan Vietnam U-20 itu," terang Loudry.
"Jadi semua yang mendapat sorotan harus jadi bukan karena keberadaan Santinya sendiri ya karena ini case internasional gitu. Nah Santi lewati itu dulu deh (gender test). Kalau itu sudah lewat silakan," terang Loudry.
PBVSI disebut telah berupaya membantu agar Santi menjalani prosedur tersebut. Federasi bahkan mencoba melakukan pendekatan melalui staf klub dan melibatkan psikolog untuk membujuk sang pemain menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Polri.
Meski demikian, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena Santi masih belum bersedia mengikuti gender test. Kondisi itu membuat PBVSI tidak dapat memasukkan namanya ke dalam skuad Timnas Voli Putri Indonesia untuk kompetisi internasional.
"Anak ini mau tidak mau asetnya kita dia sudah pernah mengharumkan nama Indonesia ya sebenarnya kita harus bela. Cuma sampai di mana kita bisa bela kalau dianya sendiri nggak mau keluar untuk berani tampil ikut tes," tukasnya.
Loudry menambahkan bahwa federasi telah melakukan pendekatan secara personal dengan melibatkan psikolog PBVSI, Ernita Pongky. Namun, keputusan akhir tetap berada pada Santi sebagai atlet yang bersangkutan.
"Kita punya psikolog waktu itu Mbak Ernita Pongky salah satu pengurus kita sudah dalam pendekatan personal bawa ke Rumah Sakit Polri mau apa nggak? Nggak berani. Oh dari yang pemainnya nggak mau. Tapi setidaknya dari federasi sudah turun tangan banget," jelasnya lagi.
(nad)
Load more