- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Target Besar Gubernur Dedi Mulyadi, bakal Bebaskan Jabar dari Kabel Semrawut pada 2029: Merusak Wajah Kota
Bandung, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkap langkah strategisnya. Hal ini sebagai target besarnya untuk Jabar ke depannya.
Dedi Mulyadi mengungkapkan komitmen terus menata besar-besaran terhadap infrastruktur di Jabar. Fokus utamanya mencakup penataan digitalisasi kabel telekomunikasi lewat sistem bawah tanah (underground).
Dedi Mulyadi menyampaikan target untuk Jabar khusus pada tahun 2029. Ia berkomitmen akan melakukan pola integrasi pembangunan dalam penataan jaringan kabel telekomunikasi dan listrik di Jabar.
KDM sapaan akrabnya meyayangkan banyak kabel yang semrawut di pusat-pusat Kabupaten/Kota. Menurutnya, hal itu sangat berbahaya hingga merusak keindahan tata ruang kota di Jawa Barat.
"Saya tidak ingin lagi melihat kabel bergelantungan di jalan-jalan kota. Itu merusak kota dan berbahaya," ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya dikutip, Rabu (6/5/2026).
Dedi Mulyadi Targetkan Kabel di Pusat Kota di Jabar Sudah Rapi pada 2029
- Antara
Dedi Mulyadi menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar mempunyai komitmen serius. Jaringan kabel telekomunikasi dan listrik tersebar di pusat-pusat kota sudah rapi.
Mantan Bupati Purwakarta itu menjelaskan, target tersebut akan mulai digarap besar-besaran pada 2029. Maka dari itu, ia akan mengalihkan posisi penataan kabel lewat sistem underground.
"Target kita jelas, pada 2029, kota-kota di Jawa Barat sudah bebas dari kabel semrawut," tegasnya.
Maka dari itu, ia mengadakan pertemuan di awal Mei 2026. Di dalamnya membahas terkait penataan kabel yang tidak tertata rapi.
KDM mendorong pemerintah mengajak kerja sama kepada sejumlah pihak. Mulai dari Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) dan perusahaan penyedia layanan internet.
KDM Ungkap Rencana Awal Penataan Kabel Semrawut di Jabar
Lebih lanjut, KDM menyampaikan dari hasil pertemuan tersebut. Salah satunya rencana mengenai tahap awal penataan kabel di pusat-pusat kota di Jabar.
Gubernur Jabar ini mengatakan, penataan akan dimulai dari kawasan Gedung Sate, Kota Bandung. Alasannya lantaran kawasan ini merupakan pusat pemerintahan di Jabar.
Ia menambahkan, jika penataan berjalan sempurna di kawasan Gedung Sate, Pemprov Jabar akan memperluas ke berbagai wilayah perkotaan di Provinsi Jawa Barat.
Pria berusia 55 tahun ini mencontohkan perluasan penataan setelah dilakukan di kawasan Gedung Sate, salah satunya Karawang. Nantinya, pemerintah akan melibatkan operator telekomunikasi dan asosiasi terkait.
"Kami mulai dari pusat dulu, misalnya dari Gedung Sate. Itu kan simbol, kalau di sana rapi, daerah lain harus ikut," terangnya.
Dedi Mulyadi memberikan penilaian terkait keberadaan kabel semrawut. Ia yang suka dengan estetika pemandangan tentu tidak menginginkan persoalan ini berada di Jabar.
Kata dia, selain mengganggu pemandangan, persoalan kabel telekomunikasi dan listrik yang semrawut juga berdampak pada keselamatan masyarakat.
Kemudian, kabel-kabel yang tidak terurus juga menyangkut pada efisiensi tata kota. Maka dari itu, Pemprov Jabar menargetkan penataan hal ini setidaknya pada 2029.
"Kabel yang tidak tertata itu rawan putus, rawan kebakaran, dan membahayakan masyarakat. Ini bukan sekadar soal enak dilihat, tapi soal keamanan," jelasnya.
Maka dari itu, Dedi Mulyadi menginginkan program penataan kabel melalui sistem bawah tanah berjalan efektif. Ia pun memberikan penekanan terhadap integrasi pekerjaan infrastruktur di Jabar.
Kata KDM, minimal tidak ada lagi kegiatan pembongkaran fasilitas yang terjadi secara berulang. Contohnya terletak pada pembangunan trotoar, kemudian dibongkar akibat banyak kabel.
"Semua harus masuk satu sistem sejak awal. Sekali kita bangun, harus tuntas. Jangan ada gali-tutup yang merusak fasilitas publik," minta dia secara tegas.
Mantan anggota DPR RI ini menyadari target ini tidak bisa dijalankan sendiri oleh Pemprov Jabar. Ia mendesak pemerintah kabupten dan kota ikut terlibat dalam komitmen tersebut.
Ia menambahkan, setidaknya pemerintah daerah menggunakan pola yang sama. Tujuannya untuk menghindari ketimpangan penataan antarwilayah sehingga nantinya akan bersifat merata.
"Provinsi dan kabupten/kota harus satu pola. Kalau tidak, yang rapi hanya sebagian, tapi yang lain tetap semrawut," ucapnya.
Dalam penutupnya, Dedi Mulyadi menyampaikan alasan utama dari penataan kabel bawah tanah. Hal ini menjadi bagian dari transformasi besar pemerintah membuat kota modern agar Jabar semakin rapi dan aman.
"Kita ingin kota-kota di Jawa Barat naik kelas-lebih tertib, lebih aman, dan punya standar infrastruktur yang baik. Ini bukan proyek jangka pendek, ini fondasi masa depan Jawa Barat," tukasnya.
(hap)