- Istimewa
Feri Amsari, Berhenti Fitnah Kerja 115 Juta Petani Indonesia!
Kenaikan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja sistematis yang bisa dihitung secara terbuka.
Hal inilah yang disebutkan sebagai peningkatan Indeks pertanaman (IP) sebagai hasil dari intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.
Bahkan, jika dibedah lebih dalam, sumber kenaikan produksi tersebut sangat jelas berasal dari tiga program utama pemerintah yang dapat dihitung secara matematis dan transparan.
Program pertama adalah pompanisasi, yaitu pengelolaan air menggunakan pompa untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP).
Program ini menjangkau sekitar 1,1 juta hektare lahan. Dengan asumsi tambahan satu kali tanam dan produktivitas rata-rata 5,5 ton gabah per hektare, program ini menghasilkan tambahan sekitar 6,05 juta ton gabah, atau sekitar 56,4 persen dari total peningkatan produksi.
Ini menjadi kontributor terbesar karena memaksimalkan lahan eksisting yang sebelumnya hanya ditanam satu kali menjadi dua kali atau lebih.
Program kedua adalah optimalisasi lahan (oplah) rawa, yang menghidupkan kembali sekitar 800 ribu hektare lahan rawa, tadah hujan, dan lahan marginal di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua Selatan.
Melalui perbaikan tata air dan peningkatan indeks pertanaman, program ini menghasilkan tambahan sekitar 4,4 juta ton gabah, atau sekitar 41 persen kontribusi terhadap total peningkatan.
Ini adalah kombinasi antara intensifikasi dan aktivasi lahan yang sebelumnya kurang produktif.
Program ketiga adalah cetak sawah baru, yaitu pembukaan lahan baru sekitar 50 ribu hektare.
Dengan produktivitas rata-rata yang sama, program ini memberikan tambahan sekitar 275 ribu ton gabah, atau sekitar 2,6 persen.
Meskipun kontribusinya belum signifikan, program ini penting sebagai fondasi jangka panjang dalam memperluas basis produksi nasional.
Dalam jangka panjang lahan cetak sawah akan mengganti lahan-lahan pertanian yang telah dikonversi untuk kebutuhan lainnya.
Jika seluruh potensi ketiga program tersebut dihitung secara maksimal, total tambahan produksi di tahun 2025 mencapai sekitar 10,7 juta ton gabah.
Namun dengan pendekatan realistis sebesar 80 persen untuk mengakomodasi faktor lapangan seperti cuaca, kesiapan petani, dan variasi produktivitas, maka realisasi tambahan produksi berada di angka sekitar 8,58 juta ton gabah, atau setara dengan sekitar 4,55 juta ton beras.