news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Logo NU.
Sumber :
  • dok.sosial media X

Membaca Kepemimpinan NU Menjelang Muktamar 2026

Paling membuat miris adalah sengkarut masalah ini terjadi pada masa hari ulang tahun (harlah) NU persis satu abad. Astaghfirullah. 
Senin, 20 Juli 2026 - 20:39 WIB
Reporter:
Editor :

Kedalaman Ilmu dan Keluasan Sikap

Figur yang akrab disapa dengan Buya Said Aqil Siradj ini dikenal sebagai ulama yang memiliki basis keilmuan klasik (turats) yang sangat kuat sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pendidikan beliau di Pesantren Kempek, kemudian melanjutkan studi hingga doktoral di Universitas Umm al-Qura Makkah, membentuk karakter intelektual yang memadukan fikih, ushul fikih, kalam, tasawuf, filsafat Islam, dan sejarah peradaban Islam.

Dalam berbagai karya dan ceramahnya, pengasuh pesantren luhur At Tsaqofah Jagakarsa-Jakarta Selatan ini, menegaskan bahwa ahlussunnah wal jamaah bukan sekadar mazhab fikih, melainkan manhaj al-fikr (metodologi berpikir) yang mengedepankan: Pertama tawassuth (berarti bersikap moderat. Seseorang menghindari sikap yang berlebihan atau ekstrem). Kedua tawazun, yang berarti keseimbangan. Nilai ini mengajarkan untuk menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya antara hak dan kewajiban, kepentingan pribadi dan masyarakat, serta urusan dunia dan akhirat. 

Ketiga tasamuh, berarti toleransi. Sikap menghargai dan menghormati perbedaan pendapat, keyakinan, budaya, atau kebiasaan orang lain tanpa harus meninggalkan prinsip yang diyakini. Dan keempat i'tidal (berarti adil dan lurus atau tegak pada kebenaran. Nilai ini menekankan sikap berlaku adil, proporsional, tidak memihak secara tidak semestinya).

Pandangan tersebut tampak jelas dalam bukunya Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Lintas Sejarah (1997), yang menjelaskan bahwa Aswaja merupakan metodologi berpikir yang moderat dan adaptif terhadap perubahan zaman. Pemikiran ini juga menjadi fondasi gagasan Islam Nusantara yang menurut Said Aqil bukan agama baru, melainkan cara keberislaman yang mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa mengubah akidah maupun syariat. 
Sebagai santri-intelektual, Buya Said Aqil, adalah representasi dari apa yang Jurgen Habermas bayangkan dalam Theory of Communicative Action (1981). Bagi Habermas intelektual yang matang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi mampu membangun dialog rasional dengan berbagai kelompok. Karakter ini sangat tampak pada Said Aqil yang mengembangkan dialog antaragama, dialog kebangsaan, serta dialog intra umat Islam. Ini tercermin bagaimana Buya Said Aqil sering kali melakukan dialog lintas agama. Termasuk pada kelompok minoritas yang saat ini kurang mendapatkan tempat “sosial” yang layak. Seperti Syiah dan Ahmadiyah.
Bahkan yang menarik adalah dengan segala umpatan dan hinaan yang pernah menghujam Kiai yang berdomisili di Ciganjur ini, ia tidak ambil pusing dan repot ketika dituduh “syiah”. Dalam satu ceramah yang pernah penulis ikuti di Magelang, Buya Said Aqil merespon pertanyaan senada dengan jawaban ala Gus Dur, “gitu aja kok repot”.  

Berita Terkait

1
2
3 4 5 6 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:28
02:23
01:37
04:43
04:30
05:26

Viral