- dok.sosial media X
Membaca Kepemimpinan NU Menjelang Muktamar 2026
Itulah yang beliau lakukan sebagai inisiator Majelis Dzikir Hubul Waton (MDHW)—perkumpulan untuk berdzikir kepada Allah yang juga menanamkan dan menguatkan nilai cinta tanah air—dimana sebagai sebuah wadah dan lembaga, ketua PBNU saat itu, melakukan gerakan massif dan struktural untuk menjaga harmoni bangsa.
Lembut dan Santun
Dalam tradisi dakwah, ulama cum intelektual ini lebih memilih pendekatan dengan gaya persuasif, edukatif, dialogis dibandingkan pendekatan konfrontatif. Hal ini menjadi penting jika melihat konteks situasi beberapa tahun silam umat Islam Indonesia yang sangat “haus” dengan gaya beragama dan pengajian yang sarat dengan emosi, perasaan yang membara dan dakwah dengan suara yang melengking. Itulah yang membuat umat menjadi kurang rileks dalam beragama. Beragama saat itu, menjadi suatu sikap politis yang sangat kental.
Itulah yang membedakan dengan Kiai Said. Beliau sering menegaskan bahwa dakwah Rasulullah dibangun pada tiga unsur utama. Pertama hikmah (kebijaksanaan atau kearifan), mau'izhah hasanah (nasihat yang baik), mujadalah billati hiya ahsan (Artinya berdialog atau berdiskusi dengan cara yang paling baik).
Bagi pribadi yang cukup sering mengikuti pengajiannya di Ciganjur, penting untuk digarisbawahi adalah, bahkan ketika menyindir suatu figur atau person, atau situasi tertentu, yang dapat berkonotasi negatif ke pihak tertentu, Buya sering kali menggunakan kata atau kalimat kiasan. Supaya pada jamaah tidak langsung mengetahui siapa orang atau konteks yang ia maksud. Kisah ini kiranya dapat diverifikasi oleh nahdliyin yang belum pernah merasakan hikmah pengajian itu. Sungguh tinggkat keadabaan yang luar biasa.
Selain itu pendekatan tersebut tercermin dalam ceramah-ceramahnya yang lebih banyak menjelaskan argumentasi ilmiah daripada menyerang pihak lain secara personal. Tasawuf menurut Said Aqil menjadi basis pembentukan akhlak sosial dan toleransi. Gagasan ini tampak dalam tulisannya mengenai tasawuf sebagai fondasi tasamuh (toleransi).
Komunikasi dakwah yang Kiai Said Aqil bangun tentu dengan suasana penuh empati, penghargaan, dan penerimaan. Jika kita mendengar pengajian-pengajiannya. Maka kita sangat merasakan pengaruh pemikiran Gus Dur yang kental dalam landscape kemanusiaan, kebangsaan dan keagamaan Kiai Said Aqil. Dapat dikatakan bahwa Gus Dur dan Kiai Said adalah figur dua era dengan satu leksikon pengetahuan yang sama.
Nilai tersebut sangat sesuai dengan model dakwah Kiai Said Aqil yang mengedepankan pendekatan humanis. Nilai humanis adalah jenis komunikasi yang menurut Carl Rogers—Person Centered—dalam On Becoming a Person (1961) bahwa komunikasi paling efektif efektif dibangun melalui: empati, penghargaan, dan penerimaan.