- Gambar ilustrasi AI
Eksplorasi Material Baja dan Life Cycle Thinking Jadi Tren Arsitektur 2026, Indonesia Mulai Tinggalkan Desain Lama
Penggunaan baja lapis juga dinilai mampu membantu mengurangi efek urban heat island, yakni kondisi meningkatnya suhu di wilayah perkotaan akibat dominasi beton dan aspal. Kota-kota besar seperti Tokyo dan Seoul telah lebih dulu mengembangkan desain bangunan dengan material reflektif untuk mengurangi penyerapan panas berlebih.
Di Indonesia sendiri, tantangan ini semakin terasa di kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya yang mengalami peningkatan suhu akibat kepadatan bangunan dan minimnya ruang hijau.
Perubahan paradigma desain juga mulai terlihat dalam berbagai proyek arsitektur modern di Indonesia. Finalis Steel Architectural Award 2024, Budi Sumaatmadja, menjelaskan bahwa desain masa kini dituntut mampu menjawab kebutuhan lingkungan sekaligus fungsi ruang publik.
Salah satu contohnya terlihat pada proyek Summarecon Mall Bekasi 2 yang mengeksplorasi penggunaan metal roofing untuk membentuk atap dinamis menyerupai ikan koi. Selain menjadi identitas visual bangunan, struktur tersebut juga dirancang untuk mendukung fungsi ruang publik yang lebih nyaman.
Pendekatan seperti ini sebenarnya sudah banyak diterapkan di negara maju. Bandara Changi Singapura misalnya, menggabungkan teknologi material modern dengan konsep efisiensi energi dan ruang hijau terbuka.
Sementara sejumlah stadion di Australia menggunakan baja lapis tahan cuaca untuk meningkatkan daya tahan bangunan dalam jangka panjang.
Konsep tersebut kini mulai banyak dibicarakan di Indonesia, terutama melalui tema “Shaping Resilient Futures – Timeless Design with Coated Steel” yang diangkat dalam ISAA 2026. Tema ini mendorong arsitek untuk tidak hanya mengejar desain ikonik, tetapi juga menciptakan bangunan yang relevan terhadap tantangan masa depan.
Kepala Badan Penghargaan Arsitektur Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Dill Raaj Singh, menilai baja kini bukan hanya material struktural, tetapi juga medium eksplorasi desain yang fleksibel dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Life Cycle Thinking Jadi Arah Baru Arsitektur Indonesia
Penerapan Life Cycle Thinking diperkirakan akan menjadi tren besar arsitektur Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Pendekatan ini mempertimbangkan seluruh siklus hidup bangunan, mulai dari pemilihan material, proses konstruksi, penggunaan energi, hingga potensi daur ulang setelah bangunan tidak lagi digunakan.