news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kilang Pertamina Internasional Lifting Perdana Bioavtur Berbahan Baku Minyak Jelantah..
Sumber :
  • Pertamina

Pertamina Salurkan Avtur Ramah Lingkungan ke Soetta dan Ngurah Rai, Produksi SAF dari Minyak Jelantah Tembus 45 Ribu Barel

Pertamina salurkan avtur ramah lingkungan berbasis minyak jelantah ke Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, produksi SAF capai 45 ribu barel.
Kamis, 16 April 2026 - 15:25 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya Pertamina Patra Niaga resmi menyalurkan avtur ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke dua bandara utama Indonesia, yakni Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai.

Penyaluran ini dilakukan pada akhir Maret 2026 sebagai bagian dari langkah strategis Pertamina dalam mendorong transisi energi berkelanjutan di sektor penerbangan.

SAF dari Minyak Jelantah Jadi Energi Masa Depan

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyebut bahwa pengembangan PertaminaSAF merupakan upaya nyata untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar impor.

“Harapannya ini bisa membantu kita mengurangi ketergantungan dari bahan bakar yang kita datangkan dari luar negeri,” ujarnya.

Menariknya, bahan baku utama avtur ramah lingkungan ini berasal dari minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO). Limbah rumah tangga yang sebelumnya tidak bernilai kini diolah menjadi bahan bakar berkualitas tinggi.

Arya juga mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengumpulan minyak jelantah.

“Minyak jelantah itu bisa bernilai ekonomi. Masyarakat bisa membawanya ke SPBU yang menyediakan fasilitas pengumpulan,” jelasnya.

Produksi Komersial SAF Capai 45 Ribu Barel

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengungkapkan bahwa produksi komersial PertaminaSAF telah direalisasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Produksi dilakukan di fasilitas green refinery Kilang Cilacap, yang menjadi pusat pengolahan bahan bakar ramah lingkungan milik Pertamina.

Pada Maret 2026, volume produksi mencapai sekitar 45 ribu barel. Seluruh produk tersebut kemudian didistribusikan ke dua bandara utama melalui jalur laut.

“Produksi ini menjadi momentum penting yang meneguhkan komitmen Pertamina sebagai pionir produsen SAF di Indonesia dan regional,” ujar Roberth.

Proses Produksi Berstandar Internasional

Pertamina memastikan bahwa avtur ramah lingkungan yang diproduksi telah memenuhi standar global. Prosesnya dimulai dari pengumpulan minyak jelantah yang telah tersertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC CORSIA).

Setelah itu, bahan baku diolah di Kilang Cilacap dengan teknologi green refinery sebelum didistribusikan ke bandara tujuan.

Produk PertaminaSAF juga telah memenuhi standar internasional Defence Standard (DEFSTAN) 91-091 untuk spesifikasi avtur, serta ketentuan dari Direktorat Jenderal Migas.

Pengujian kualitas dilakukan oleh laboratorium Pertamina yang telah mengantongi sertifikasi ISO 17025, memastikan keamanan dan kelayakan penggunaan dalam industri penerbangan.

Uji Coba hingga Produksi Komersial

Pengembangan PertaminaSAF sebenarnya telah dimulai sejak pertengahan 2025. Uji coba produksi komersial dilakukan pada Juli 2025 sebelum akhirnya masuk tahap produksi penuh pada 2026.

Langkah ini menunjukkan kesiapan teknologi dan infrastruktur Pertamina dalam mengembangkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Dorong Ekonomi Sirkular dan Energi Bersih

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Konsep ini mendorong ekonomi sirkular, di mana limbah rumah tangga dapat diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi.

Selain itu, penggunaan avtur ramah lingkungan diharapkan mampu menekan emisi karbon dari sektor penerbangan, yang selama ini menjadi salah satu kontributor emisi global.

Langkah Awal Transisi Energi Penerbangan

Penyaluran avtur ramah lingkungan ke Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai menjadi langkah awal dalam transformasi energi di sektor penerbangan nasional.

Dengan meningkatnya kebutuhan penerbangan dan tekanan global untuk menurunkan emisi, penggunaan SAF diprediksi akan menjadi kebutuhan utama di masa depan.

Melalui inisiatif ini, Pertamina tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan di kawasan. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:48
03:17
02:49
02:06
01:42
02:02

Viral