- ANTARA
Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS, Ini Penyebab Utama Mata Uang RI Terus Tertekan
Akibatnya, arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai tertahan. Permintaan dolar AS meningkat tajam, sementara tekanan jual terhadap rupiah semakin besar.
Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah menjadi semakin sempit. Bahkan dalam waktu sekitar satu pekan, rupiah langsung menembus dua level psikologis penting, yakni Rp17.400 dan Rp17.500 per dolar AS.
Harga Minyak Tinggi Picu Kekhawatiran Fiskal
Lonjakan harga minyak dunia juga memicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Harga energi yang tinggi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memperlebar defisit anggaran.
Pada 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara pada kuartal I-2026, defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap PDB.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap berada di bawah batas aman 3 persen terhadap PDB sepanjang tahun ini.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai persoalan utama saat ini bukan hanya moneter, tetapi juga menyangkut tata kelola fiskal dan arah kebijakan pemerintah.
Menurut dia, investor asing sangat sensitif terhadap negara yang dinilai tidak memiliki arah kebijakan ekonomi yang jelas dalam jangka panjang.
Rating dan Sorotan Lembaga Internasional Pengaruhi Investor
Selain faktor global, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri setelah sejumlah lembaga internasional memberikan sorotan terhadap Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan penurunan proyeksi peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings ikut memengaruhi selera risiko investor asing terhadap pasar saham dan obligasi domestik.
Tidak hanya itu, pasar juga menunggu hasil review MSCI terhadap pasar saham Indonesia. Penilaian dari lembaga internasional tersebut dinilai berpengaruh besar terhadap aliran modal asing ke Indonesia.
Josua menilai kombinasi risiko global dan kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah membuat investor semakin mengurangi eksposur pada aset rupiah.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Bertahan Tinggi
Tekanan terhadap rupiah semakin besar karena pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.