- ANTARA
Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS, Ini Penyebab Utama Mata Uang RI Terus Tertekan
Kenaikan harga energi dinilai berpotensi membuat inflasi AS tetap tinggi. Jika inflasi belum turun signifikan, maka peluang pemangkasan suku bunga The Fed akan semakin kecil.
Situasi ini membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global. Akibatnya, dana asing cenderung bertahan di AS dibanding masuk ke negara berkembang seperti Indonesia.
Pasar kini menanti data inflasi konsumen AS sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Bank Indonesia Siapkan Langkah Stabilisasi
Di tengah tekanan yang terus meningkat, Bank Indonesia menyiapkan tujuh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.
Langkah tersebut meliputi:
-
Intervensi besar-besaran di pasar valuta asing
-
Menarik modal asing melalui SRBI
-
Membeli surat berharga negara di pasar sekunder
-
Memperbesar intervensi di pasar DNDF
-
Menjaga likuiditas perbankan tetap longgar
-
Mengawasi pembelian dolar AS
-
Membatasi pembelian dolar maksimal US$25.000 per orang per bulan
Namun, sejumlah ekonom menilai langkah tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan arah rupiah. Apalagi cadangan devisa Indonesia juga terus menurun.
Per April 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,2 miliar, turun sekitar US$10,3 miliar dibanding posisi akhir 2025 sebesar US$156,5 miliar.
Kondisi itu membuat pasar menilai Bank Indonesia kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi demi menjaga ketahanan cadangan devisa di tengah tekanan global yang masih tinggi. (nsp)