news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Mata Uang Rupiah dan Dolar AS.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

Rupiah Melemah ke Rp 17.845 Usai Bank Indonesia Naikkan BI Rate

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (19/6/2026).
Jumat, 19 Juni 2026 - 09:58 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (19/6/2026).

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor BI) menunjukkan, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.826 pada Kamis (18/6/2026).

Posisi rupiah itu melemah 73 poin dari kurs sebelumnya di level 17.753 pada perdagangan Rabu (17/6/2026).

Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 19 Juni 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp17.845 per dolar AS. 

Posisi itu melemah 51 poin atau 0,29 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen dari dalam negeri berasal dari pelaku pasar yang masih cenderung menunggu keputusan MSCI, terkait status Indonesia di kelompok emerging market dan pencabutan pembekuan penambahan konstituen saham baru Indonesia.

Pada saat yang sama, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate sebesar 0,25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen, juga turut menjadi perhatian para investor.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan, kenaikan BI Rate ini sebagai langkah lanjutan bank sentral untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sekaligus, merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027, agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5+/- 1 persen yang ditetapkan Pemerintah.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.790-Rp17.840," ujarnya.

Sebagai informasi, penguatan indeks dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. 

Sentimen tersebut didorong oleh optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang diprediksi dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga merespons sikap Federal Reserve alias The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen, sehingga memberi sinyal soal masih terbukanya peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. (Mohammad Yudha Prasetya)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:08
07:23
03:12
01:06
03:56
02:56

Viral