- tvOnenews.com/Wildan M.
Rupiah Menguat ke Rp17.938 per Dolar AS, Lesunya Investasi Domestik Dinilai Bisa Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi RI
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah menguat ke Rp17.938 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026.
Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.976 per dolar AS pada Senin, 20 Juli 2026.
Posisi rupiah melemah 32 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026.
Perdagangan di pasar spot pada Selasa, 21 Juli 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp17.938 per dolar AS.
Posisi rupiah menguat 10 poin atau 0,06 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.948 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy)," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Meski realisasi investasi mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen (yoy), sambung dia, namun kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik.
Dia memaparkan walaupun realisasi investasi pada kuartal II-2026 itu menjadi sinyal positif dan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global, kualitas pertumbuhan investasinya mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas.
Saat ini, kata dia, pertumbuhan investasi semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang melonjak 27,5 persen (yoy).
Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru menyusut 7,8 persen (yoy) dan menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.
Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam.
Akan tetapi, menurut dia, pelaku usaha domestik masih memilih menahan ekspansi karena lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan serta ketidakpastian ekonomi.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang lebih banyak menciptakan lapangan kerja.
Misalnya, di sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik hingga ekonomi digital memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk.
"Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.940-Rp18.000," terangnya.
Sebagai informasi, Iran dan AS saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan dengan Komando Pusat AS menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu (19/7/2026) malam waktu setempat.
Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya.
Militer AS terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya.
Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz dimana Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan terbarunya bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz.
Kembalinya pertempuran yang memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April 2026 lalu dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal.
Sebagian besar pengiriman melalui Hormuz masih terganggu dan kembali ke sebagian kecil dari tingkat sebelum perang.
Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)