news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengembalikan Mahkota Binokasih (Binokasih Sanghyang Pake) kepada pihak Keraton Sumedang Larang..
Sumber :
  • jabarprov.go.id

Bukan Sekadar Pusaka, Naskah Akademik Mahkota Binokasih Diroyeksikan Jadi Acuan Masa Depan Jawa Barat ala Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi memproyeksikan kajian ilmiah Mahkota Binokasih sebagai “cetak biru” masa depan Jawa Barat, mulai dari tata ruang, pendidikan, hingga kebijakan sosial yang
Rabu, 20 Mei 2026 - 16:07 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendorong agar warisan budaya Sunda tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka atau simbol seremonial, melainkan menjadi dasar berpikir dalam membangun daerah. 

Salah satu yang menjadi perhatian besar adalah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, peninggalan penting Kerajaan Sunda yang baru selesai dikirab dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026.

Bagi pria yang akrab disapa KDM itu, penyusunan naskah akademik mengenai Mahkota Binokasih bukan sekadar proyek dokumentasi sejarah

Ia memproyeksikan kajian ilmiah tersebut sebagai “cetak biru” masa depan Jawa Barat, mulai dari tata ruang, pendidikan, hingga kebijakan sosial yang berakar pada nilai kebudayaan Sunda. 

Gagasan ini langsung menjadi sorotan publik karena dianggap berbeda dari pendekatan pembangunan pada umumnya.

Naskah Akademik Mahkota Binokasih Disiapkan Jadi Fondasi Kebijakan Jawa Barat

Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya penyusunan naskah akademik yang komprehensif terkait Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan penjelasan ilmiah agar benda bersejarah tersebut tidak terus dipandang secara mistis atau identik dengan hal klenik.

Hal itu disampaikan KDM dalam Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake di Museum Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (14/5/2026).

Mahkota Binokasih, pusaka peninggalan Kerajaan Sunda Pajajaran dari abad ke-14
Sumber :
  • Ist

Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kajian akademik tersebut harus memuat berbagai aspek penting, mulai dari tanggal pembuatan, bahan dasar, pembuat, hingga makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Ia menilai pendekatan ilmiah akan membuat masyarakat lebih memahami sejarah secara rasional dan utuh.

Menurut KDM, naskah akademik ini nantinya tidak berhenti sebagai arsip budaya semata. Ia ingin nilai-nilai yang terkandung dalam Mahkota Binokasih menjadi referensi dalam pembangunan Jawa Barat modern.

Konsep tersebut dinilai unik karena jarang ada kepala daerah yang menjadikan warisan budaya sebagai dasar penyusunan kebijakan publik. 

KDM bahkan menyebut nilai historis Sunda bisa menjadi pedoman dalam tata bangunan, tata pendidikan, hingga sistem pelayanan kesehatan agar selaras dengan karakter budaya masyarakat Jawa Barat.

Fakta Sejarah Mahkota Binokasih dan Jejak Kejayaan Pajajaran

Mahkota Binokasih sendiri merupakan pusaka peninggalan Kerajaan Sunda Pajajaran yang diperkirakan berasal dari abad ke-14. Pusaka tersebut saat ini dirawat oleh Keraton Sumedang Larang dan menjadi salah satu simbol penting peradaban Sunda kuno.

Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa Prasasti Batutulis di Bogor dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang memimpin Kerajaan Pajajaran pada 1482–1521.

Menurut Titi, keberadaan peninggalan Pajajaran kini sangat terbatas akibat runtuhnya kerajaan dan masuknya pengaruh kerajaan Islam di Pulau Jawa pada masa berikutnya. Karena itu, Mahkota Binokasih dan Prasasti Batutulis menjadi artefak penting untuk melacak kejayaan masa lalu Tatar Sunda.

Dalam naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih disebut pertama kali dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol legitimasi kekuasaan. 

Ketika Pajajaran runtuh, mahkota tersebut diselamatkan oleh empat utusan kerajaan dan kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang.

Fakta sejarah itu membuat Mahkota Binokasih tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka, tetapi juga simbol kesinambungan politik, budaya, dan identitas masyarakat Sunda selama ratusan tahun.

Ahli BRIN Ungkap Makna Kosmologi Mahkota Binokasih

Menariknya, penelitian ilmiah terhadap Mahkota Binokasih juga mengungkap filosofi mendalam di balik desainnya. Ahli Arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, menyebut mahkota tersebut mengadopsi konsep Kosmologi Tritangtu.

Konsep itu menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Menurut Harry, struktur Mahkota Binokasih terbagi menjadi tiga bagian utama yang melambangkan sistem kepemimpinan Sunda kuno.

Bagian atas berbentuk stupa dengan ornamen bunga teratai yang melambangkan golongan rohaniawan atau pemimpin spiritual. Filosofi ini menggambarkan kebijaksanaan dan nilai moral yang menjadi penuntun masyarakat.

Dedi Mulyadi saat Kirab Mahkota Binokasih
Sumber :
  • tvOnenews.com Edit / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL

Bagian tengah merepresentasikan raja atau pemimpin pemerintahan. Ornamen daun segitiga dan Garuda Mungkur melambangkan ketegasan, keberanian, serta tanggung jawab pemimpin dalam melindungi rakyat.

Sementara bagian bawah melambangkan kaum intelektual atau penasihat kerajaan yang bertugas memberikan ilmu pengetahuan dan pertimbangan logis dalam pemerintahan.

Kajian ilmiah tersebut memperlihatkan bahwa Mahkota Binokasih bukan sekadar simbol kerajaan, melainkan juga menyimpan sistem nilai yang kompleks dan relevan hingga saat ini. 

Karena itulah, kirab budaya Mahkota Binokasih 2026 dinilai menjadi momentum penting bagi masyarakat Jawa Barat untuk kembali memahami identitas budaya mereka secara lebih ilmiah dan modern. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:50
02:34
01:38:42
16:07
13:47
14:22

Viral