TEGAS! Presiden Prabowo Ogah Harga Komoditas Indonesia Disetir Bangsa Lain
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto menyoroti lemahnya kemampuan Indonesia mengelola kekayaan nasional meski memiliki sumber daya alam melimpah dalam pidato pembahasan kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal 2027 di hadapan sidang paripurna DPR RI.
Prabowo mengatakan Indonesia memiliki posisi geografis strategis, pasar domestik besar, serta komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, kelapa sawit, hingga logam tanah jarang.
Ia menyebut ekspor tiga komoditas strategis yakni kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.100 triliun per tahun.
Namun, Prabowo mempertanyakan mengapa penerimaan negara Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara berkembang lain.Â
Ia membandingkan rasio pendapatan negara Indonesia yang hanya sekitar 11-12 persen terhadap PDB dengan negara seperti Mexico, India, Philippines, hingga Cambodia.
Prabowo juga mengungkap kekhawatirannya terhadap meningkatnya angka kemiskinan dan menurunnya kelas menengah meski ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen selama tujuh tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan sistemik dalam model ekonomi nasional.
Ia menilai selama puluhan tahun telah terjadi aliran keluar kekayaan nasional melalui praktik under invoicing, transfer pricing, hingga penyelundupan komoditas.Â
Prabowo menyebut data menunjukkan ratusan miliar dolar kekayaan Indonesia mengalir keluar negeri dalam dua dekade terakhir.
Dalam pidatonya, Prabowo juga kembali mengingatkan agar Indonesia tidak terus-menerus merasa inferior terhadap negara lain.
Ia menegaskan pemerintah akan memperkuat pengawasan terhadap ekspor sumber daya alam serta memperbaiki tata kelola lembaga strategis, termasuk sektor bea cukai.Â
Selain itu, pemerintah ingin Harga komoditas strategis Indonesia seperti kelapa sawit, nikel, dan emas tidak lagi sepenuhnya ditentukan pasar luar negeri.