- Kolase YouTube Intel Melayu
Mengenang G30S: Kisah Ilham Aidit, Anak DN Aidit yang Nyaris Jadi Korban dan Sempat Menyembunyikan Nama Ayah
Saat itu, Ilham sedang bermain kelereng dan tidak terlalu memperhatikan kedatangan mereka. Para tentara hanya berbicara dengan pamannya sebelum kemudian pergi.
Di kemudian hari, Ilham mengetahui bahwa kedatangan mereka ternyata bukan sekadar kunjungan biasa. Ia mengatakan bahwa dirinya diduga hendak dihabisi karena merupakan anak DN Aidit. Namun, karena masih sangat kecil, keberadaannya saat itu tidak seperti yang diperkirakan para tentara tersebut.
“Dikiranya saya sudah besar. Kalau umur saya sudah belasan tahun saja, mungkin ceritanya lain,” tutur Ilham.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling membekas dari masa kecilnya. Ia bukan pelaku sebuah peristiwa politik, tetapi harus menjalani konsekuensi sosial karena hubungan darah dengan salah satu tokoh yang berada di pusat konflik politik 1965.
Cap PKI Membuat Ilham Sempat Menyembunyikan Nama Aidit
Kesulitan Ilham tidak berhenti pada perpisahan dengan keluarganya. Nama belakang Aidit yang melekat pada dirinya justru menjadi sumber persoalan ketika ia tumbuh besar.
Ilham mengingat bagaimana ia melihat tulisan besar di dinding rumah setelah peristiwa G30S.
“Ketika saya kecil, waktu itu usia saya 6 tahun, setelah peristiwa G30/S PKI tiba-tiba saya ingin keluar rumah. Tiba-tiba saya lihat ada tulisan besar di dinding, 'Gantung Aidit, Bubarkan PKI'. Saya terkejut. Karena beberapa waktu lalu saya masih lihat bapak saya berpidato di Istora,” kisah Ilham.
Tekanan tersebut kemudian terbawa ke lingkungan pergaulannya. Ejekan terhadap ayahnya kerap membuat Ilham terpancing berkelahi.
“Tiap ada orang yang meledek saya lawan. Tiap ada yang menghina ayah saya, saya lawan. Akhirnya seorang pastor menasihati saya. Dia bilang 'Nilai kamu bagus, tapi kamu tidak akan lulus kalau kamu terus berkelahi'. Saya pun tidak pernah lagi menggunakan nama Aidit di belakang nama saya,” celotehnya.
Nasihat Pastor Brouwer akhirnya mengubah sikap Ilham. Ia memilih menghentikan perkelahian dan berkonsentrasi pada pendidikan. Keputusan tersebut kemudian membawanya meraih gelar insinyur dari Universitas Katolik Parahyangan.
Namun, konsekuensi sosial dari nama keluarganya masih bertahan lama. Ilham mengaku tidak menggunakan nama Aidit dalam identitasnya selama puluhan tahun.