- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Kok Bisa Sayur Genjer Identik dengan G30S/PKI? Ternyata Berawal dari Lagu “Gendjer-gendjer”
tvOnenews.com - Bagi sebagian orang, genjer mungkin hanya dikenal sebagai sayuran sederhana yang biasa ditumis dengan tauco, sambal, atau bumbu dapur lainnya.
Tumbuh di area persawahan dan rawa, tanaman bernama ilmiah Limnocharis flava ini sejak lama menjadi bagian dari makanan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia.
Namun, siapa sangka, nama genjer kemudian memiliki cerita sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar urusan dapur.
Genjer pernah menjadi salah satu sumber pangan bagi masyarakat kecil ketika kehidupan rakyat berada dalam kondisi sulit. Pada masa pendudukan Jepang, masyarakat Banyuwangi, misalnya, memanfaatkan genjer yang tumbuh di sekitar sungai dan persawahan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Sayuran yang sebelumnya dianggap sederhana itu kemudian diabadikan dalam sebuah lagu yang kelak menjadi sangat terkenal: “Gendjer-gendjer”.
Masalahnya, setelah pergolakan politik 1965, nama genjer tidak lagi sekadar mengingatkan orang pada makanan rakyat. Lagu “Gendjer-gendjer” ikut dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga genjer pun secara tidak langsung terseret ke dalam stigma politik tersebut. Lantas, kok bisa sayuran yang tumbuh di sawah ini identik dengan G30S/PKI?
Genjer Awalnya Makanan Wong Cilik
Sebelum menjadi bagian dari perdebatan sejarah, genjer merupakan makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat kecil.
Sejarawan sekaligus akademisi Jurusan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, mengatakan genjer telah menjadi makanan keseharian wong cilik sejak dahulu.
“Wong cilik terbiasa mengolah bahan yang ada di sekitarnya, termasuk genjer atau paku rawan (limnocharis flava). Sayuran ini cukup akrab dalam ekologi persawahan,” kata Heri melansir dari Kompas.
Masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan pangan. Genjer yang tumbuh di persawahan pun diolah menjadi santapan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, tumbuhan yang tumbuh di sawah maupun pekarangan juga dipercaya memiliki manfaat bagi tubuh.
“Sayuran bagian dari tombo atau ramuan,” kata Heri.
Menurutnya, keyakinan tersebut terbentuk dari pengalaman empiris masyarakat. Genjer yang dikonsumsi dari generasi ke generasi kemudian dianggap sebagai tanaman yang aman dimakan.