- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Kok Bisa Sayur Genjer Identik dengan G30S/PKI? Ternyata Berawal dari Lagu “Gendjer-gendjer”
“Makanya genjer terus hidup dan berhasil menerobos sekat waktu, walau hanya akrab di dunia wong cilik,” tuturnya.
Pada masa pendudukan Jepang, keberadaan genjer menjadi semakin penting bagi masyarakat yang mengalami kesulitan pangan.
Menurut buku Musik dan Politik: Genjer-Genjer, Kuasa dan Kontestasi Makna (2007) karya Utan Parlindungan, kondisi ekonomi masyarakat Banyuwangi saat itu turut terdampak kebijakan pendudukan Jepang. Warga kemudian memanfaatkan daun genjer yang tumbuh di sekitar sungai sebagai bahan makanan.
Lagu “Gendjer-gendjer” Mengubah Makna Genjer
Kisah genjer kemudian masuk ke dunia musik. Muhammad Arief, seorang musisi Banyuwangi, menciptakan lagu “Gendjer-gendjer” untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang mengalami penderitaan pada masa pendudukan Jepang.
Lagu tersebut menggambarkan bagaimana genjer yang sebelumnya dianggap sebagai tanaman biasa justru menjadi bahan pangan masyarakat dalam kondisi serba kekurangan.
Setelah Indonesia merdeka, “Gendjer-gendjer” semakin dikenal dan pernah dipopulerkan oleh sejumlah penyanyi, termasuk Lilis Suryani dan Bing Slamet. Lagu tersebut juga populer pada masa Demokrasi Terpimpin.
Namun, perjalanan lagu ini kemudian bersinggungan dengan politik.
Dalam jurnal Genjer-Genjer dan Stigmatisasi Komunis (2003) karya Paring Waluyo Utomo, disebutkan bahwa situasi sosial-politik Indonesia pada 1960–1965 turut memengaruhi perjalanan lagu tersebut. Muhammad Arief disebut bergabung dengan Lekra, organisasi kebudayaan yang memiliki kedekatan politik dengan PKI.
Lagu “Gendjer-gendjer” kemudian mendapat tempat di lingkungan politik PKI. Menurut Utan Parlindungan dalam bukunya, pada 1964 DN Aidit bahkan mengklaim “Gendjer-gendjer” sebagai mars PKI.
Di titik inilah hubungan antara genjer, lagu “Gendjer-gendjer”, dan PKI mulai terbentuk dalam ingatan publik.
Setelah 1965, Genjer Ikut Terseret Stigma Politik
Ketika Gerakan 30 September 1965 terjadi dan PKI kemudian menjadi sasaran utama penindakan politik, “Gendjer-gendjer” ikut mengalami perubahan nasib.
Lagu yang sebelumnya menggambarkan penderitaan rakyat tersebut dicekal dan tidak lagi bebas dinyanyikan pada masa Orde Baru. Kompas mencatat bahwa lagu itu kemudian dikenal luas sebagai lagu yang dikaitkan dengan PKI.
Dari sinilah muncul asosiasi yang bertahan hingga sekarang: genjer dianggap memiliki hubungan dengan G30S/PKI.