YE Live di GBK 24 Oktober, Jakarta Bidik Peluang Ekonomi dari Puluhan Ribu Pengunjung
Sekitar 5.000 Pekerja Terlibat, Dampak Ekonomi Perlu Diukur
Selain potensi belanja pengunjung, penyelenggara memperkirakan sekitar 5.000 tenaga kerja Indonesia terlibat dalam berbagai fungsi produksi dan operasional konser. Pekerjaan tersebut mencakup instalasi panggung, teknisi suara dan tata cahaya, kru LED dan video, logistik, pengemudi truk, petugas keamanan, layanan medis, usher, hingga kebersihan.
Keterlibatan tenaga kerja ini menunjukkan bahwa konser berskala stadion membutuhkan rantai produksi yang luas. Di balik pertunjukan yang disaksikan penonton, ada pekerjaan teknis dan layanan yang harus disiapkan sejak tahap pembangunan panggung hingga kegiatan selesai.
Karen menggambarkan pekerja dan pelaku usaha lokal sebagai bagian penting dari penyelenggaraan acara. “Mereka semua adalah bagian dari YE Live in Jakarta. Mereka semua adalah tuan rumahnya,” katanya.
Konser ini juga didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah sponsor dan mitra. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari persiapan acara yang diharapkan dapat berlangsung aman dan tertib.
Namun, dampak ekonomi yang sesungguhnya baru dapat dinilai setelah kegiatan berlangsung. Jumlah pengunjung yang benar-benar hadir, pengeluaran selama berada di Jakarta, tingkat keterisian penginapan, serta transaksi pelaku usaha dapat menjadi indikator untuk mengukur manfaatnya.
Dengan konser dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober, perhatian kini tidak hanya tertuju pada penampilan Ye di GBK. YE Live in Jakarta juga menjadi kesempatan untuk melihat sejauh mana sebuah pertunjukan musik internasional dapat menghubungkan industri hiburan dengan pariwisata, tenaga kerja, dan bisnis lokal.
Keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada apakah peluang tersebut benar-benar menghasilkan manfaat yang dirasakan lebih luas oleh masyarakat Jakarta. (udn)