- Dibuat oleh ChatGPT
Kok Bisa AI Membutuhkan Banyak Air? Begini Penjelasan Ilmiahnya
Berapa Banyak Air yang Dibutuhkan AI?
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah besarnya kebutuhan air untuk mendukung operasional pusat data, terutama ketika layanan AI digunakan oleh jutaan orang setiap hari.
Menurut Prof. Zulys, air memiliki kemampuan menyerap panas yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan dalam sistem pendinginan. Namun, kualitas air juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah pada perangkat dan sistem yang digunakan.
“Kenapa air? Air sebagai materi menakjubkan yang mempunyai kapasitas panas tinggi. Tapi, air ini bukan sembarang air, harus air yang bersih, bukan dari sungai, danau, atau laut karena air tersebut bisa merusak chip. Studi dari UC Riverside dan Colorado memperkirakan model AI seperti GPT-3 minum sekitar 500 ml air untuk 50ml respons,” ungkap Prof. Zulys.
Jika mengacu pada perkiraan tersebut, kebutuhan airnya setara dengan sekitar 10 mililiter per respons, bukan 50 mililiter seperti yang disebutkan dalam bagian lain dari penjelasannya.
Ia juga menyoroti besarnya kebutuhan air apabila penggunaan AI terus meningkat dan melibatkan banyak pengguna dalam waktu bersamaan.
“Kira-kira 50 ml air per satu jawaban. Tapi, kalau yang pakai ribuan orang, skalanya jadi bikin kaget. Satu data center 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2.000.000 liter air sehari, setara kebutuhan 6.500 rumah tangga,” kata Prof. Zulys.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai perkiraan yang bergantung pada asumsi dan kondisi operasional pusat data. Kebutuhan air tidak selalu sama untuk setiap model AI maupun setiap pertanyaan yang diajukan pengguna.
Selain itu, penggunaan air di pusat data tidak berarti seluruh air tersebut langsung habis diminum atau digunakan oleh chip. Air dapat digunakan dalam sistem pendinginan dengan mekanisme yang berbeda, termasuk sistem yang memungkinkan air digunakan kembali.
Bagaimana Cara Mengurangi Penggunaan Air untuk AI?
Meningkatnya penggunaan AI tidak serta-merta berarti masyarakat harus berhenti memanfaatkan teknologi tersebut. Namun, pengelolaan pusat data perlu mempertimbangkan efisiensi penggunaan air, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya air.
Prof. Zulys menyebut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak penggunaan air dalam operasional pusat data.