- Pixabay/TheDigitalArtist
Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan, tapi Kenapa Sih Perbuatan Maksiat Masih Marak Terjadi?
Jakarta, tvOnenews.com - Ramadhan memiliki tempat diistimewakan bagi umat Muslim. Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan suci yang penuh rahmat, ampunan, serta keberkahan.
Saat momen Ramadhan, setan juga disebut dibelenggu atau diikat selama di bulan Ramadhan. Penjelasan itu semakin kuat dipaparkan dalam sejumlah hadis riwayat.
Namun pemaparan setan dibelenggu saat bulan Ramadhan menimbulkan pertanyaan dan kebingungan dari sebagian umat Muslim. Sebab, banyak fenomena perbuatan maksiat sering terjadi di bulan suci.
Ia pun memaparkan tentang setan dibelenggu yang dijelaskan dalam hadis riwayat. Pemaparannya langsung dari Imam Bukhari dan Muslim.
"Kalau Ramadhan sudah datang, pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu," ujar Ustaz Adi Hidayat sambil mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Audio Dakwah, Sabtu (31/1/2026).
Melansir dari NU Online Jabar, berikut hadis riwayat menjelaskan tentang setan dibelenggu saat Ramadhan.
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: "Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelanggu." (HR. Bukhari & Muslim)
- Freepik
UAH sapaan akrabnya memahami, ada yang mengartikan tafsir setan diikat secara nyata saat Ramadhan. Ia pun sangat mendukung dengan pemahaman tersebut.
"Tapi ada yang kedua ini paling menarik, kalau dibelenggu nyata, kenapa maksiat banyak? Perkara maksiat itu salah satunya setan, yang mengaktifkan nafsu," tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa, para ulama menyebutkan arti "setan dibelenggu" adalah kalimat majazi. Dalam hal ini, kalimat di hadis riwayat tersebut berupa kiasan.
Ia pun mengambil tujuan dan kehadiran bulan Ramadhan. Umat Muslim senantiasa meningkatkan amal dan ibadah. Otomatis makna Ramadhan sebagai momentum menghindarkan perbuatan maksiat.
Pada momen inilah, peluang perbuatan buruk tidak memiliki celah. Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, pintu surga terbuka lebar dan pintu neraka tertutup rapat-rapat.
"Dan setan pun tidak mampu menggoda dia karena yang digoda mempunyai kekuatan beramal saleh. Maka dari sini dilukiskan seakan-akan setan terbelenggu," bebernya.
Direktur Quantum Akhyar Institute itu menjelaskan makna dari terbelenggu. Setan tidak kuasa melakukan pekerjaannya menggoda manusia.
Bagi UAH, terbelenggu itu memang nyata. Hal menjadi permasalahan terletak pada diri manusianya yang susah melepas perbuatan maksiat sebagaimana tugas dilakukan oleh setan.
"Ini sama saja kondisi bagi dirinya di luar Ramadhan," lanjutnya.
Ia merincikan lebih detail dari acuan dalil Al-Quran terletak di Surat Al-Baqarah Ayat 183. Ayat tersebut menjelaskan tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan.
Ia menjelaskan tentang ketakwaan. Hal ini akan menyasar pada iman dimiliki oleh seluruh hamba Allah SWT.
Setiap manusia memiliki perbedaan ukuran iman. Ada yang sangat kuat, ada juga masih lemah.
Di balik itu, Allah SWT tidak membeda-bedakan standarisasi ukuran keimanan setiap hamba-Nya. Bagi-Nya, iman seluruh hamba-Nya adalah sama.
"Seakan-akan Allah SWT mengatakan, 'hey orang beriman, saya tidak peduli dengan kekuatan iman kalian. Saya wajibkan kalian menunaikan puasa'," imbuhnya.
UAH menegaskan, tantangan keimanan setiap hamba diuji oleh Allah SWT saat di awal Ramadhan. Artinya, pembekalan iman ditempa sejak tanggal 1 Bulan Suci Ramadhan.
"Jaminannya diberikan di awal Ramadhan. Pertengahannya tidak ada. Jangan kaget nanti kalau ada seleksi awal Ramadhan," terangnya.
Di awal Ramadhan, seluruh setan benar-benar dibelenggu sesuai dengan penjelasan hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sementara, semua hamba Allah SWT mendapat takaran rahmat yang setara.
Maka dari itu, Ustaz Adi Hidayat menyarankan rahmat diberikan iman yang setara harus dipertahankan sampai akhir Ramadhan. Ini menjadi upaya tameng diri terhindar dari perbuatan maksiat.
"Antum kalau sia-siakan tahun ini, belum tentu tahun depan Antum hidup. Sayang banget, hati-hati," imbau UAH.
(hap)