Konsumsi Makanan Instan Masih Tinggi, Ahli Soroti Pola Makan Harian Keluarga di Indonesia
- Antara
Menurutnya, keberadaan gorengan tidak terlepas dari perkembangan teknologi minyak goreng. Namun, untuk mengubah kebiasaan tersebut menuju pola makan sehat membutuhkan waktu panjang, bahkan lintas generasi.
“Coba perhatikan penjual makanan di tepi jalan, akan sangat mudah menjumpai gorengan, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Sangat sulit menjumpai makanan sehat di tepi jalan,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat masih merasa membutuhkan jenis makanan dan minuman tertentu, termasuk yang kerap mendapat sorotan.
“Masih, sesekali saya masih mengonsumsi minuman berkarbonasi,” kata Kristiono.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi tersebut tidak dilakukan secara rutin. Minuman berkarbonasi biasanya dikonsumsi saat tubuh membutuhkan tambahan energi, terutama ketika berolahraga dalam kondisi panas.
Menurutnya, konsumsi tersebut juga dilakukan dalam kondisi tertentu, misalnya ketika jeda makan terlalu lama sebelum berolahraga. “Itu juga belum tentu sebulan sekali,” tegasnya.
Kris, yang berprofesi sebagai teknisi, rutin menjaga kebugaran dengan berlari di tengah cuaca panas Surabaya. Ia juga kerap melakukan trail running di Puthuk Siwur dengan jarak 20–25 kilometer.
Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat meningkat sejak pandemi COVID-19. Pola konsumsi makanan sehat dan aktivitas fisik kini menjadi kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman kemasan. Tidak semua pelaku usaha dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan preferensi konsumen.
Dhedy Adi Nugroho menyebut ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi industri. Salah satunya adalah menyesuaikan komposisi produk agar lebih sehat.
“Inilah tantangan kami sebagai pelaku industri,” tegasnya.
Menurut Dhedy, produsen kini mulai melakukan reformulasi produk, seperti mengurangi kadar gula atau bahan tertentu. Namun, proses ini membutuhkan waktu dan riset yang tidak singkat.
Ia juga mengakui bahwa biaya pengembangan produk cukup besar dan berpotensi membebani keuangan perusahaan. “Bisa-bisa pegawai tidak gajian,” kelakarnya. “Namun itu tetap kami lakukan, agar ada substitusi produk dan bisa diterima pasar,” lanjutnya.
Selain reformulasi, industri juga menerapkan pengendalian porsi serta meningkatkan edukasi kepada konsumen terkait komposisi produk.
Load more