Fenomena Self Medication Meningkat, Apoteker Dituntut Lebih Aktif Edukasi Pasien
- Pexels/Pavel Danilyuk
Jakarta, tvOnenews.com - Fenomena self medication atau pengobatan mandiri di masyarakat Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kemudahan memperoleh obat bebas, maraknya informasi kesehatan di media sosial, hingga kebiasaan mencari solusi cepat saat sakit membuat banyak orang memilih mengobati diri sendiri tanpa konsultasi medis terlebih dahulu.
Di satu sisi, pengobatan mandiri dapat membantu masyarakat menangani keluhan ringan secara praktis. Namun di sisi lain, minimnya pemahaman mengenai dosis, efek samping, hingga interaksi obat juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan baru.
Tak sedikit masyarakat yang menganggap semua obat bebas aman dikonsumsi tanpa aturan khusus. Padahal, penggunaan obat yang tidak sesuai dosis atau dikonsumsi terlalu sering dapat memicu efek samping serius. Kondisi ini juga diperparah dengan kebiasaan menyimpan obat lama di rumah dan menggunakannya kembali tanpa mengetahui apakah obat tersebut masih layak konsumsi atau sesuai dengan keluhan yang dialami.
Selain itu, tren mencari informasi kesehatan melalui media sosial juga membuat masyarakat rentan menerima informasi yang belum tentu akurat. Banyak konten kesehatan yang viral justru menyederhanakan penggunaan obat tertentu tanpa menjelaskan risiko maupun kondisi medis yang berbeda pada tiap individu.
Fenomena self medication sendiri semakin mudah ditemukan di masyarakat perkotaan maupun daerah. Banyak orang membeli obat berdasarkan rekomendasi media sosial, pengalaman orang lain, atau informasi internet tanpa memahami kondisi tubuh masing-masing.
Padahal, penggunaan obat yang tidak tepat dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari efek samping, alergi, resistensi antibiotik, hingga memperparah penyakit yang sebenarnya membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Kondisi ini membuat peran apoteker dinilai semakin penting. Tidak lagi hanya bertugas menyerahkan obat, apoteker kini dituntut lebih aktif memberikan edukasi kepada pasien agar penggunaan obat tetap aman dan tepat sasaran.
Peningkatan kebutuhan edukasi kesehatan masyarakat itu turut menjadi perhatian dalam kolaborasi antara Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) yang diumumkan pada Juni 2026. Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah penguatan kompetensi apoteker, khususnya dalam memberikan konseling penggunaan obat dan manajemen penyakit kepada masyarakat.
Melalui program pendidikan dan pelatihan, para apoteker nantinya akan dibekali informasi mengenai tren farmasi terkini serta pendekatan pelayanan yang lebih berorientasi pada pasien. Kegiatan akan dilakukan secara berkala melalui webinar nasional dan simposium di berbagai daerah.
Karena itu, apoteker dianggap memiliki posisi strategis sebagai sumber informasi kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat. Edukasi sederhana mengenai aturan minum obat, dosis, maupun kapan pasien harus berkonsultasi ke dokter dinilai dapat membantu menekan risiko penggunaan obat yang keliru.
Selain peningkatan edukasi, kolaborasi tersebut juga menyoroti pentingnya pendekatan kesehatan yang sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Faktor budaya, iklim, dan kebiasaan masyarakat dinilai memengaruhi pola konsumsi obat dan cara masyarakat memahami kesehatan.
Dalam kerja sama itu, akan dibentuk kelompok ahli yang melibatkan apoteker Indonesia untuk memberikan masukan terkait kebutuhan masyarakat di lapangan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan edukasi kesehatan yang lebih relevan dan mudah dipahami publik.
Kepala Divisi Consumer Healthcare Daewoong Pharmaceutical, Eunkyeong Park, mengatakan kerja sama lintas negara ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama bagi tenaga farmasi Indonesia dan Korea Selatan.
"Perjanjian ini menjadi langkah penting bagi para ahli farmasi dari Korea Selatan dan Indonesia untuk saling belajar dan berkembang bersama, sekaligus membangun kemitraan jangka panjang demi kemajuan kesehatan masyarakat," ujar Eunkyeong Park, dalam keterangannya, dikutip Kamis (18/6/2026).
Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak hanya bersifat satu arah.
"Daewoong tidak ingin sekadar berbagi pengalaman secara searah. Apoteker di kedua negara dapat tumbuh secara berkelanjutan." lanjutnya.
Di tengah meningkatnya tren pengobatan mandiri, kehadiran apoteker yang aktif mengedukasi masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menciptakan penggunaan obat yang lebih aman dan bertanggung jawab. (cmi)
Load more