Hari Anak Nasional dan Krisis Ruang Aman yang Belum Berakhir
- Unsplash/Yannis H
Dengan kata lain, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak justru menjadi lokasi yang paling sering muncul dalam laporan kekerasan.
Komnas Perlindungan Anak selama beberapa tahun terakhir juga berulang kali mengingatkan bahwa meningkatnya kekerasan terhadap anak tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, serta memperoleh perlindungan dari kekerasan sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.
Oleh karena itu, negara, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan hak tersebut terpenuhi.
Senada dengan itu, Komnas Perempuan menilai kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak tidak sekadar merupakan tindak kriminal individual.
Kekerasan tersebut lahir dari relasi kuasa yang timpang, budaya menyalahkan korban (victim blaming), serta sistem perlindungan yang belum sepenuhnya berpihak kepada korban.
Penyelesaiannya pun tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga perubahan budaya dan penguatan sistem pencegahan.
Senada dengan hal itu, organisasi non-profit Save the Children Indonesia pada laman resminya menilai meningkatnya kekerasan terhadap anak menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem perlindungan anak di Indonesia.
Organisasi tersebut mengingatkan bahwa bentuk kekerasan seksual yang dialami anak dan remaja sangat beragam, mulai dari sentuhan yang tidak diinginkan, pemaksaan melakukan hubungan seksual, dipaksa menyaksikan tindakan seksual, perkawinan anak, hingga dipaksa mengirimkan foto atau video bermuatan seksual.
Seluruh bentuk kekerasan tersebut dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital yang kini semakin rentan dimanfaatkan pelaku untuk melakukan eksploitasi.
Harus Lebih Dari Sekedar Seremoni
Selama bertahun-tahun, Hari Anak Nasional identik dengan lomba, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan seremonial.
Namun, meningkatnya kasus kekerasan menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan ruang bermain bagi anak, melainkan memastikan mereka benar-benar hidup di lingkungan yang aman.
Perlindungan anak juga tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga. Negara, aparat penegak hukum, sekolah, organisasi keagamaan, dunia usaha, media, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun sistem yang mampu mencegah kekerasan sebelum terjadi, bukan hanya merespons ketika korban telah berjatuhan.
Load more