News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Hari Anak Nasional dan Krisis Ruang Aman yang Belum Berakhir

Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang diperingati pada Kamis (23/7/2026) menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya menghadirkan ruang aman bagi setiap anak. 
Jumat, 24 Juli 2026 - 17:10 WIB
Ilustrasi Anak-anak
Sumber :
  • Unsplash/Yannis H

Jakarta, tvOnenews.com - Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang diperingati pada Kamis (23/7/2026) menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya menghadirkan ruang aman bagi setiap anak. 

Namun, di balik peringatan yang tahun ini mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", tersimpan kenyataan yang bertolak belakang. Ruang yang semestinya menjadi tempat paling aman bagi anak justru semakin sering menjadi lokasi terjadinya kekerasan, terutama terhadap anak perempuan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seruan tersebut sekaligus menjadi alarm bahwa perlindungan anak di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. 

Rumah, sekolah, lingkungan sekitar, hingga ruang digital yang semestinya menjadi tempat anak tumbuh dan berkembang kini tidak selalu mampu memberikan rasa aman. 

Dalam banyak kasus, pelaku kekerasan justru berasal dari lingkaran terdekat korban, mulai dari orang tua, anggota keluarga, guru, hingga orang dewasa yang memiliki relasi kuasa terhadap anak.

Momentum Hari Anak Nasional pun tidak cukup dimaknai sebagai perayaan tahunan. Padahal, hal yang jauh lebih mendesak ialah memastikan setiap anak dapat hidup tanpa ancaman kekerasan dan memiliki ruang untuk didengar ketika menjadi korban.

Hal itu sejalan dengan semangat yang disampaikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui Surat Edaran Menteri Nomor 2 Tahun 2026. 

Peringatan Hari Anak Nasional disebut sebagai momentum memperkuat kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam memenuhi hak-hak anak sekaligus melindungi mereka dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan ketika rentetan kasus kekerasan terhadap anak terus bermunculan sepanjang tahun ini. 

Hampir setiap pekan publik disuguhi pemberitaan mengenai anak yang menjadi korban kekerasan fisik, kekerasan seksual, penelantaran, hingga eksploitasi. 

Korbannya tidak hanya balita atau remaja, tetapi juga anak-anak usia sekolah dasar yang seharusnya masih menikmati masa bermain dan belajar.

Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian publik tertuju pada sejumlah kasus penganiayaan anak yang berujung kematian, kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan anak sebagai korban, hingga kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan ayah kandung, paman, guru, pemuka agama, maupun orang dewasa yang memiliki kedekatan dengan korban. 

Berbagai kasus tersebut memperlihatkan pola yang sama, yakni pelaku bukan orang asing, melainkan sosok yang selama ini dipercaya anak.

Fenomena itu memperkuat kekhawatiran bahwa krisis perlindungan anak tidak lagi hanya berkaitan dengan ancaman dari luar rumah. Justru ruang yang seharusnya menjadi benteng pertama perlindungan kini dalam banyak kasus berubah menjadi lokasi terjadinya kekerasan.

Fenomena Gunung Es
Data pemerintah menunjukkan persoalan tersebut masih jauh dari kata selesai. Kementerian PPPA melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat sepanjang 2025 terdapat 35.025 perempuan dan anak menjadi korban kekerasan. 

Pemerintah menegaskan angka tersebut hanyalah fenomena gunung es karena masih banyak korban yang memilih tidak melapor.

Sementara itu, data SIMFONI PPA per Juli 2025 menunjukkan terdapat 15.615 kasus kekerasan yang telah tercatat. Dari jumlah tersebut, kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling dominan dengan 6.999 kasus. 

Mayoritas korban merupakan anak berusia 13 hingga 17 tahun, sedangkan lokasi kejadian paling banyak berada di lingkungan rumah tangga, yakni mencapai 9.956 kasus. 

Data tersebut memperlihatkan ironi bahwa rumah, yang semestinya menjadi tempat paling aman bagi anak, justru menjadi lokasi yang paling sering muncul dalam laporan kekerasan.

Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan sekitar satu dari dua anak Indonesia pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.

Sementarai Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menemukan satu dari empat perempuan usia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual. 

Besarnya kesenjangan antara angka prevalensi dan angka pelaporan menunjukkan masih kuatnya fenomena underreporting, ketika korban memilih diam karena berbagai alasan.

Menurut KemenPPPA, korban sering kali tidak melapor karena takut kepada pelaku, merasa malu, khawatir tidak dipercaya, takut merusak nama baik keluarga, atau bergantung secara ekonomi maupun emosional kepada pelaku. 

Pada anak-anak, situasinya bahkan lebih kompleks karena banyak yang belum memahami bahwa perlakuan yang mereka alami merupakan bentuk kekerasan.

Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Paling Aman
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan ialah lokasi terjadinya kekerasan. Data SIMFONI PPA menunjukkan sebagian besar kasus terjadi di ranah domestik atau rumah tangga. 

Dengan kata lain, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak justru menjadi lokasi yang paling sering muncul dalam laporan kekerasan.

Komnas Perlindungan Anak selama beberapa tahun terakhir juga berulang kali mengingatkan bahwa meningkatnya kekerasan terhadap anak tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. 

Setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, serta memperoleh perlindungan dari kekerasan sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.

Oleh karena itu, negara, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan hak tersebut terpenuhi.

Senada dengan itu, Komnas Perempuan menilai kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak tidak sekadar merupakan tindak kriminal individual. 

Kekerasan tersebut lahir dari relasi kuasa yang timpang, budaya menyalahkan korban (victim blaming), serta sistem perlindungan yang belum sepenuhnya berpihak kepada korban.

Penyelesaiannya pun tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga perubahan budaya dan penguatan sistem pencegahan.

Senada dengan hal itu, organisasi non-profit Save the Children Indonesia pada laman resminya menilai meningkatnya kekerasan terhadap anak menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem perlindungan anak di Indonesia. 

Organisasi tersebut mengingatkan bahwa bentuk kekerasan seksual yang dialami anak dan remaja sangat beragam, mulai dari sentuhan yang tidak diinginkan, pemaksaan melakukan hubungan seksual, dipaksa menyaksikan tindakan seksual, perkawinan anak, hingga dipaksa mengirimkan foto atau video bermuatan seksual. 

Seluruh bentuk kekerasan tersebut dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital yang kini semakin rentan dimanfaatkan pelaku untuk melakukan eksploitasi.

Harus Lebih Dari Sekedar Seremoni
Selama bertahun-tahun, Hari Anak Nasional identik dengan lomba, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan seremonial. 

Namun, meningkatnya kasus kekerasan menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan ruang bermain bagi anak, melainkan memastikan mereka benar-benar hidup di lingkungan yang aman.

Perlindungan anak juga tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga. Negara, aparat penegak hukum, sekolah, organisasi keagamaan, dunia usaha, media, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun sistem yang mampu mencegah kekerasan sebelum terjadi, bukan hanya merespons ketika korban telah berjatuhan.

Pada akhirnya, tema Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa masa depan anak Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan atau layanan kesehatan. 

Masa depan itu juga ditentukan oleh keberhasilan seluruh elemen bangsa menghadirkan ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan serta ancaman.

 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Selamat Datang Juergen Klopp

Selamat Datang Juergen Klopp

Mantan pelatih Borussia Dortmund dan Liverpool Juergen Klopp resmi ditunjuk sebagai pelatih tim nasional atau timnas Jerman usai DFB (Asosiasi Sepak Bola Jerman) memecat Julian Nagelsmann.
Dedi Mulyadi Waspadai Modus Baru demi Sayembara Rp50 Juta, Rekayasa Tangkap Begal Bisa Berujung Pidana

Dedi Mulyadi Waspadai Modus Baru demi Sayembara Rp50 Juta, Rekayasa Tangkap Begal Bisa Berujung Pidana

Program sayembara berhadiah hingga Rp50 juta yang digagas Gubernur Dedi Mulyadi untuk membantu memberantas aksi begal dan kejahatan jalanan menjadi sorotan.
Urai Kepadatan Penumpang, Stasiun Bekasi Ekstensi Mulai Dibangun

Urai Kepadatan Penumpang, Stasiun Bekasi Ekstensi Mulai Dibangun

PT Summarecon Agung Tbk bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan serta Kementerian Perhubungan secara resmi memulai pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi. 
Sekolah Pinggiran Hutan Raih Dua Juara Nasional Robotik, Kini Bersiap ke Malaysia

Sekolah Pinggiran Hutan Raih Dua Juara Nasional Robotik, Kini Bersiap ke Malaysia

Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi SMA Negeri 1 Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Jampidsus Baru Kuntadi Dilantik, Burhanuddin Beri Pesan Menohok untuk Kasus Febrie Adriansyah

Jampidsus Baru Kuntadi Dilantik, Burhanuddin Beri Pesan Menohok untuk Kasus Febrie Adriansyah

Jaksa Agung ST Burhanuddin melantik Kuntadi sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) menggantikan Febrie Adriansyah. Pesan Burhanuddin
Menteri Investasi Apresiasi Praktik ESG PT Vale di Morowali atas Komitmen Pertambangan Berkelanjutan

Menteri Investasi Apresiasi Praktik ESG PT Vale di Morowali atas Komitmen Pertambangan Berkelanjutan

Di tengah percepatan agenda hilirisasi nasional, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan keberlanjutan lingkungan.

Trending

Scout Camp 2026 Digelar di Thailand, Kontingen Pramuka Harumkan Nama Indonesia di Kancah Internasional

Scout Camp 2026 Digelar di Thailand, Kontingen Pramuka Harumkan Nama Indonesia di Kancah Internasional

Kontingen Pramuka sekolah mengharumkan Indonesia di International Education Adventure 4.0 (Scout Camp 2026) yang digelar di Sangkhom Islam Wittaya School, Sadao, Provinsi Songkhla, Thailand, pada 20–23 Juli 2026.
Ramalan Zodiak 25 Juli 2026: Aries Untung Besar, Cancer Tahan Jajan

Ramalan Zodiak 25 Juli 2026: Aries Untung Besar, Cancer Tahan Jajan

Ramalan zodiak keuangan 25 Juli 2026 hadir lengkap dengan angka keberuntungan! Aries untung besar dan Cancer diminta tahan jajan di Sabtu akhir pekan ini.
APMI Bersama BPDP  Hadirkan STORY 2026 Ekspedisi Aceh, Dorong Generasi Muda Bersuara untuk Sawit Baik Indonesia

APMI Bersama BPDP  Hadirkan STORY 2026 Ekspedisi Aceh, Dorong Generasi Muda Bersuara untuk Sawit Baik Indonesia

Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI) bersama BPDP sebagai BLU Kementerian Keuangan menyelenggarakan STORY 2026: Sawit Creator Academy Ekspedisi Aceh.
4 Shio yang Mendadak Cuan pada 25 Juli 2026, Siapa Saja?

4 Shio yang Mendadak Cuan pada 25 Juli 2026, Siapa Saja?

4 shio yang mendadak cuan pada 25 Juli 2026 sudah terungkap! Cek ramalan keuangan dan angka hoki 12 shio Sabtu besok dan temukan siapa yang paling beruntung!
Garuda Calling! Daftar Resmi 26 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Ada Justin Hubner dan Mitchell Baker

Garuda Calling! Daftar Resmi 26 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Ada Justin Hubner dan Mitchell Baker

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengumumkan daftar resmi 26 pemain yang tampil di Piala AFF 2026. Sejumlah nama andalan kembali menghiasi skuad Garuda.
Media Vietnam Kaget Bukan Main, Bisa-bisanya Timnas Indonesia Tambah Kekuatan Jelang Piala AFF 2026

Media Vietnam Kaget Bukan Main, Bisa-bisanya Timnas Indonesia Tambah Kekuatan Jelang Piala AFF 2026

Persiapan Timnas Indonesia menuju Piala AFF 2026 kembali menjadi perhatian media Vietnam. Mereka menyoroti keputusan John Herdman yang mengubah komposisi skuad.
Viral Sulitnya Cari Kerjaan, Wanita ini Menangis: Kalau Belum Diterima Mending Amplop Lamaran Dikembalikan

Viral Sulitnya Cari Kerjaan, Wanita ini Menangis: Kalau Belum Diterima Mending Amplop Lamaran Dikembalikan

Seorang wanita curhat dirinya masih kesuiltan mendapat pekerjaan. Pencaker itu menceritakan telah mengeluarkan banyak uang demi kerja viral di media sosial.
Selengkapnya

Viral