AI Bukan Cuma untuk Perusahaan Besar, UMKM Bisa Memakainya untuk Mengembangkan Bisnis
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Pelaku usaha kecil atau UMKM kini memiliki pilihan baru untuk mengembangkan bisnis tanpa harus merekrut banyak tenaga kerja atau mengeluarkan biaya besar untuk pemasaran.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generatif dapat membantu menyusun teks promosi, mencari ide konten, membuat konsep visual, hingga merangkum informasi yang dibutuhkan untuk memahami calon pelanggan.
Bagi UMKM dengan keterbatasan sumber daya, teknologi ini membuka peluang untuk mengerjakan sebagian tugas pemasaran secara lebih efisien.
Pemanfaatan AI juga mulai terlihat di negara-negara maju. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang diterbitkan pada November 2025 mencatat, 31% UMKM yang disurvei di tujuh negara—Austria, Kanada, Jerman, Irlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris—telah menggunakan AI generatif.
Dari kelompok pengguna tersebut, 65% menyatakan teknologi ini membantu meningkatkan kinerja, sedangkan 26% melaporkan adanya peningkatan pendapatan. Temuan itu merupakan hasil survei terhadap lebih dari 5.000 UMKM, bukan gambaran seluruh usaha di negara-negara tersebut.
Dalam praktiknya, manfaat AI tidak selalu berupa penjualan yang langsung melonjak. Pemilik usaha dapat menggunakannya untuk membuat beberapa versi deskripsi produk, menyusun kalender konten media sosial, atau menyesuaikan bahasa promosi dengan kelompok konsumen yang berbeda.
Meski begitu, informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa agar tidak mengandung klaim berlebihan, terutama untuk produk makanan, minuman, dan herbal. Teknologi dapat membantu pekerjaan, tetapi kualitas produk, kepercayaan pelanggan, dan pengelolaan bisnis tetap menentukan keberlanjutan usaha.
AI Membantu Pemasaran, tetapi Hasilnya Bergantung pada Cara Penggunaan
Bagi UMKM yang mengelola produksi sekaligus penjualan sendiri, membuat konten secara rutin dapat menjadi pekerjaan tambahan yang menyita waktu.
AI generatif bisa membantu mengatasi sebagian kendala tersebut. Pemilik usaha, misalnya, dapat meminta beberapa alternatif kalimat promosi, ide video pendek, atau penjelasan produk dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Laporan OECD menunjukkan bahwa AI generatif terutama dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kinerja, bukan semata-mata menggantikan pekerja. Teknologi ini juga berpotensi membantu usaha yang menghadapi keterbatasan keterampilan.
Namun, OECD mencatat sejumlah hambatan, antara lain kekhawatiran mengenai hak cipta dan aturan, keamanan informasi yang dimasukkan ke sistem AI, serta kurangnya kemampuan pengguna.
Karena itu, pelaku usaha perlu mempelajari cara memberikan instruksi yang jelas, memeriksa hasil, dan menghindari memasukkan data sensitif pelanggan ke layanan yang tidak dipahami kebijakan privasinya. AI juga tidak otomatis mengetahui keunggulan produk yang sebenarnya.
Pemilik usaha tetap harus memasukkan informasi yang akurat mengenai bahan, harga, cara penggunaan, dan karakteristik produknya.
Untuk produk herbal, kehati-hatian menjadi lebih penting. Konten promosi sebaiknya tidak menjanjikan penyembuhan penyakit atau menyatakan manfaat medis yang belum didukung bukti memadai. AI dapat membantu menyusun bahasa pemasaran, tetapi tidak dapat dijadikan sumber tunggal untuk memastikan keamanan maupun khasiat produk.
Dari Negara Maju, Pelajaran Penting bagi UMKM Indonesia
Pengalaman UMKM di negara maju menunjukkan bahwa penggunaan AI perlu diiringi peningkatan keterampilan. Dalam survei OECD, penggunaan teknologi ini berbeda antarnegara: sekitar 39% UMKM responden di Jerman menggunakannya, dibandingkan sekitar 24% di Jepang.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penerapan AI dipengaruhi pula oleh karakteristik usaha, sektor, dan kesiapan digital.
Pelajaran yang relevan bagi UMKM Indonesia bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan memilih pekerjaan yang benar-benar terbantu oleh AI. Usaha rumahan bisa memulai dari kebutuhan sederhana, seperti menyusun ide konten mingguan, menulis deskripsi katalog, membuat rancangan kampanye promosi, atau menyiapkan jawaban atas pertanyaan pelanggan.
Hasilnya kemudian perlu dievaluasi menggunakan data usaha sendiri. Pemilik bisnis dapat membandingkan jumlah pertanyaan yang masuk, pesanan, pelanggan yang kembali membeli, serta biaya promosi sebelum dan sesudah strategi baru diterapkan.
Dengan begitu, keputusan tidak hanya berdasarkan kesan bahwa konten terlihat lebih menarik, tetapi juga pada perubahan yang bisa diukur.
AI pun tidak menggantikan kebutuhan akan pencatatan keuangan. Pelaku usaha tetap perlu mengetahui biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, ongkos pengiriman, dan keuntungan bersih. Omzet yang meningkat belum tentu berarti laba ikut naik apabila biaya operasional juga bertambah.
Belajar AI untuk Mengembangkan Bisnis UMKM
Melansir dari berbagai sumber, gambaran penerapan teknologi tersebut terlihat pada Ngatiyem, pelaku UMKM asal Ciawi, Kabupaten Bogor, yang mengembangkan jamu instan H’Dayah. Sebelum mengikuti program Inkubasi Mitra Inkubator GAN yang mendapat pelatihan dari Yayasan Indonesia Setara (YIS), ia memasarkan produknya melalui WhatsApp dan Instagram @jamu_instan_hidayah.
Namun, materi promosinya cenderung monoton dan penjualan sempat melemah. Melalui program inkubasi, ia mulai mempelajari penggunaan AI untuk membuat materi promosi yang lebih bervariasi. Ia juga belajar mengembangkan produk dan membiasakan diri mencatat keuangan secara mingguan.
“Alhamdulillah ada peningkatan omzet selama ikut inkubasi dan alhamdulillah bertambah reseller,” ujarnya. Ia menyebut omzet usahanya kini mencapai sekitar Rp1,5 juta per minggu, dengan dukungan penjualan produk tambahan. Angka tersebut merupakan keterangan yang disampaikan Ngatiyem, bukan bukti bahwa AI saja menjadi penyebab kenaikan omzet.
Usaha H’Dayah sendiri berawal dari kebiasaan meracik minuman herbal untuk suaminya yang bekerja dengan sistem tiga sif. Ia kemudian mengembangkan racikan itu menjadi usaha rumahan. Mengenai pengalaman kesehatan suaminya pada 2017,
Ngatiyem menuturkan bahwa ia meminta izin dokter untuk memberikan racikan kunyit putih dan jahe merah sebagai pendamping perawatan medis. Ia mengatakan suaminya pulih dalam waktu sekitar tiga bulan. Pengalaman pribadi tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa racikan herbal itu menyembuhkan penyakit atau menggantikan pengobatan dokter.
- ist
“Pelatihan ini memberikan saya banyak pengetahuan baru. Bukan hanya ide untuk mengembangkan produk, tetapi juga belajar memanfaatkan teknologi dalam promosi. Terpenting dalam pelatihan adalah jejaring dan membangun kebiasaan mengelola usaha secara lebih teratur,” ujarnya.
Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno, menekankan pentingnya pendampingan agar pelaku UMKM mampu beradaptasi dan membangun usaha secara berkelanjutan.
“Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Pelaku UMKM perlu terus belajar, berinovasi, memanfaatkan potensi lokal, serta membangun jejaring dan kolaborasi,” ujar Sandiaga.
Pengalaman UMKM tersebut memperlihatkan bahwa penerapan AI dalam UMKM tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Teknologi dapat menjadi alat bantu untuk membuat promosi lebih beragam, tetapi manfaatnya perlu ditopang keterampilan, evaluasi penjualan, pencatatan keuangan, dan pendampingan usaha.
Pada akhirnya, AI membantu membuka peluang, sedangkan keputusan bisnis dan keberlanjutan usaha tetap berada di tangan pelaku UMKM. (udn)
Load more