Herri Pras Tuai Kontroversi, Habib Bahar Ingatkan Bahaya Menghina Ulama
- tvOneNews
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah polemik yang melibatkan Herri Pras, pendakwah Habib Bahar bin Smith turut angkat bicara mengenai fenomena konten kreator di media sosial yang menjadikan penghinaan dan gunjingan terhadap ulama sebagai bahan konten.
Kontroversi tersebut bermula ketika Herri Pras melontarkan pernyataan yang menyebut tokoh agama Ustaz Adi Hidayat (UAH) dan Ustaz Abdul Somad (UAS) sebagai "ulama munafik".
Tak hanya itu, ia juga menantang duel terbuka kepada siapa pun yang mampu membuktikan bahwa tuduhannya terhadap kedua pendakwah tersebut benar.
- YouTube Herri Pras/Instagram Hannykristiantonew
Situasi semakin menjadi sorotan setelah kediaman Herri Pras di kawasan Gunung Putri, Bogor, didatangi sejumlah orang tidak dikenal (OTK) berbadan kekar. Salah satu orang yang disebut berada di lokasi tersebut adalah Yudi Cahyadi.
Menanggapi fenomena tersebut, pendiri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Habib Bahar bin Smith, mengingatkan para konten kreator agar lebih mengutamakan nilai positif dan manfaat bagi masyarakat dalam setiap karya yang diunggah ke media sosial.
Menurutnya, konten yang diproduksi seharusnya dapat memberikan edukasi, menyebarkan kebaikan, serta mendorong masyarakat untuk menjauhi berbagai perilaku buruk.
"Hendaknya bagi para konten kreator melakukan hal-hal yg baik yg bermanfaat bagi orang lain dalam konten-kontennya..sehingga kontennya bermanfaat dan orang-orang yang melihatnya di berbagai media sosial bisa memgambil kebaikan-kebaikan dan manfaat dalam kontennya…konten yg mengajak kepada hal-hal baik dan mencegah dari pada hal-hal yg buruk," ucap Habib Bahar kepada tim tvOnenews.com.
Lebih lanjut, Habib Bahar secara khusus menyoroti konten-konten yang dibuat Herri Pras. Ia menilai sejumlah konten kreator tersebut kerap memuat penghinaan, cacian, hingga gunjingan yang ditujukan kepada para ulama, kiai, dan habaib.
Habib Bahar menegaskan bahwa keinginan untuk memperoleh penghasilan maupun popularitas melalui media sosial tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk merendahkan, mencaci, atau memfitnah orang lain. Terlebih, jika tindakan tersebut ditujukan kepada tokoh agama yang memiliki kedudukan keilmuan di tengah masyarakat.
"Si Herri Pras ini konten-kontennya banyak menghina, mencaci dan menggunjing para ulama, kyai dan habaib..kalau mau mencari uang atau ketenaran dari media sosial tanpa harus mencaci dan memaki atau memfitnah orang lain, apalagi para alim ulama, kalau si Herri Pras tidak sejalan dan sepemikiran dengan ulama yg di hina dan gunjing," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa perbedaan pendapat atau ketidaksepahaman terhadap pandangan seorang ulama tidak boleh menjadi alasan untuk melontarkan hinaan dan cacian.
Menurutnya, kritik terhadap tokoh agama tetap diperbolehkan selama disampaikan melalui cara yang santun dan tidak merendahkan pihak lain.
"Kalau pun mau mengkritik ya dengan cara yang baik,bukan dengan hinaan dan cacian…dia ulama bukan, orang berilmu bukan, terus sok-sokan mau menghakimi para ulama yang jauh berilmu dan derajatnya di tinggikan oleh Allah karena ilmu itu…fitnah itu tertidur dan celakalah orang-orang yang membangunkannya…"
Selain itu, pendakwah kelahiran Manado, Sulawesi Utara, tersebut turut mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan ulama sebagai bagian dari upaya mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap ilmu dan ajaran agama.
Habib Bahar berpandangan bahwa tindakan merendahkan ulama tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi sasaran, tetapi juga berpotensi memengaruhi pandangan masyarakat awam terhadap nasihat, fatwa, dan ilmu yang disampaikan para tokoh agama.
"Dan ingat bahwa sebenarnya daging ulama itu beracun, kebiasaan Allah Ta’ala dalam menyingkap tabir para pencela akan terlihat dengan sendirinya. Dan siapa yang melecehkan para ulama, maka Allah Ta’ala akan menimpakan kematian hati sebagai bencana baginya sebelum kematiannya, karena kasian masyarakat awam, jika kehormatan ulama di jatuhkan, masyarakat yang awam tidak akan percaya lagi pada ilmu, fatwa dan nasehatnya…maka berbicaralah yang baik atau lebih baik diam…semoga dia mendapat hidayah di jalan kebaikan..amin."
Load more