Perang Iran vs AS dan Israel Memanas: Trump Ancam Gelombang Serangan Baru, Timur Tengah Diguncang Balasan Drone dan Rudal
- Anadolu
Jakarta, tvOnenews.com - Perkembangan terbaru perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan eskalasi yang semakin luas dan kompleks. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut “gelombang besar” serangan militer AS terhadap Iran masih akan datang, menandakan konflik belum mencapai puncaknya.
Di saat bersamaan, Iran dan kelompok proksinya terus melancarkan serangan balasan ke sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, sementara Israel memperluas operasi militernya ke Lebanon dengan menyasar target yang diklaim sebagai basis Hezbollah.
Berikut seluruh hal penting yang perlu diketahui dari perkembangan terbaru konflik ini.
Trump Beberkan Tujuan Perang: Hancurkan Kapasitas Militer Iran
Dalam pernyataannya kepada CNN, Trump menegaskan target utama operasi militer bersama AS-Israel terhadap Iran.
Ia menyebut tujuan perang meliputi:
-
Menghancurkan kemampuan rudal Iran
-
Melumpuhkan angkatan laut Iran
-
Mengakhiri ambisi nuklir Teheran
-
Menghentikan suplai senjata Iran ke kelompok militan di kawasan
Trump juga mengungkapkan bahwa “kejutan terbesar” dalam perang ini adalah serangan Iran terhadap negara-negara Arab di kawasan Teluk, bukan hanya terhadap Israel.
Pernyataan ini muncul setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap fasilitas strategis Iran yang disebut dilakukan menyusul gagalnya perundingan nuklir antara Washington dan Teheran.
Gagalnya Negosiasi Nuklir Picu Operasi Militer
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, membeberkan bahwa upaya terakhir mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran gagal total. Dalam perundingan di Jenewa bersama Jared Kushner, delegasi AS menawarkan penghentian pengayaan uranium selama 10 tahun, dengan AS menanggung pasokan bahan bakar nuklir untuk tujuan sipil.
Namun Iran menolak proposal tersebut.
Menurut Witkoff, penolakan itu menunjukkan Teheran tetap ingin mempertahankan kemampuan pengayaan uranium yang dinilai AS berpotensi menuju pengembangan senjata nuklir.
Kegagalan diplomasi inilah yang akhirnya diikuti pengumuman Trump mengenai operasi tempur besar bersama Israel.
Serangan Balasan Iran Guncang Kawasan Teluk
Konflik kini meluas ke berbagai negara yang menjadi sekutu AS atau menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika.
Berikut dampak serangan yang dilaporkan sejak perang dimulai:
-
Kuwait: Mencegat 178 rudal balistik dan 384 drone.
-
Uni Emirat Arab (UEA): Mencegat 169 dari 182 rudal serta 645 drone; 44 drone dilaporkan jatuh di wilayah negara.
-
Bahrain: Mencegat 70 rudal dan 76 drone.
-
Qatar: Mencegat 101 dari 104 rudal dan 24 dari 39 drone; juga menembak jatuh dua pesawat pembom SU-24 Iran.
-
Arab Saudi: Kedutaan Besar AS di Riyadh terkena dua drone yang diduga milik Iran, menyebabkan kerusakan ringan. Delapan drone lainnya dicegat di dekat Riyadh dan Al-Kharj.
-
Oman: Pelabuhan komersial Duqm diserang dua drone, dan sebuah kapal tanker minyak diserang di lepas pantai Masandam.
Selain itu, ledakan terdengar di Erbil, Irak, dekat bandara yang menjadi lokasi aktivitas militer. Sirene peringatan juga berbunyi di Bahrain.
Serangan-serangan ini menunjukkan konflik telah menyentuh pusat-pusat ekonomi, infrastruktur energi, hingga fasilitas diplomatik.
Israel Serang Beirut, Hezbollah Balas dengan Drone
Di Lebanon, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk puluhan desa di selatan negara itu. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyebut setidaknya 50 desa dan permukiman diminta mengosongkan wilayahnya sejauh 1.000 meter dari lokasi yang diklaim sebagai fasilitas Hezbollah.
Militer Israel juga memperbarui peringatan evakuasi untuk kawasan Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut dan satu wilayah lainnya.
Ledakan keras dan kepulan asap terlihat di langit Beirut selatan pada Selasa pagi. Israel menyatakan tengah menyerang pusat komando dan fasilitas penyimpanan senjata Hezbollah.
Sebagai balasan, Hezbollah mengaku meluncurkan drone ke wilayah Israel. Angkatan Udara Israel menyebut telah mencegat dua UAV yang masuk dari arah Lebanon.
Eskalasi ini terjadi meskipun sebelumnya terdapat gencatan senjata yang dimediasi AS pada November 2024, yang kini praktis tidak lagi efektif.
Warga AS Diminta Tinggalkan Timur Tengah
Departemen Luar Negeri AS mendesak seluruh warga negara Amerika untuk segera meninggalkan kawasan Timur Tengah.
Peringatan ini muncul di tengah meluasnya serangan lintas negara yang menyasar pangkalan militer, bandara, hotel, hingga fasilitas diplomatik.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa rakyat Amerika “layak mendapatkan yang lebih baik” dan menyebut warga AS seharusnya mengambil kembali kendali atas negara mereka, pernyataan yang mencerminkan retorika politik kedua belah pihak.
Konflik Berpotensi Meluas
Perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel kini tidak lagi terbatas pada satu front. Serangan balasan yang menjalar ke negara-negara Teluk memperlihatkan risiko konflik regional skala besar.
Dengan Trump menyatakan gelombang serangan berikutnya masih akan datang, dan Iran terus mempertahankan tekanan melalui rudal serta drone, kawasan Timur Tengah menghadapi fase paling genting dalam beberapa tahun terakhir.
Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih memungkinkan, atau justru konflik akan memasuki babak baru yang lebih luas dan destruktif. (nsp)
Load more