Profil Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Bapak Pluralisme
- tim tvOne
Hingga pada saat itu, diketahui nilai-nilai pesantren semakin luntur. Melihat kemiskinan yang melanda pesantren-pesantren tersebut, Gus Dur pun urung untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan lebih fokus untuk mengembangkan pesantren.
Kemudian, Gus Dur melanjutkan karirnya sebagai penulis untuk menulis artikel Majalah Tempo dan Harian Kompas. Meski tergolong sukses, ia merasa masih kurang untuk memenuhi kehidupannya sehingga ia mencari pekerjaan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es.Â
Pada tahun 1974, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebuireng hingga tahun 1980. Ia juga pernah menjadi guru kitab di Al Hikam.Â
Jejak Politik Gus Dur
Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Pada awalnya beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.Â
Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.
Gus Dur juga mendapat pengalaman politik pertamanya karena berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada  pemilihan umum legislatif 1982. PPP sebuah partai Islam yang dibentuk dari gabungan 4 himpunan Islam termasuk NU. Setahun kemudian Gus Dur sukses menduduki kursi Ketua PBNU dan pada tahun 1989 akhirnya ia sukses duduk di kursi MPR-RI.
Memasuki Era Reformasi 1998, banyak orang NU meminta Gus Dur untuk membentuk partai politik baru, makan dibentuklan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada awal tahun berikutnya, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat untuk pemilihan presiden.
Kemudian, pada tahun 1999 pemilu kembali dilaksanakan, Gus Dur terpilih sebagai presiden melalui sidang MPR RI. Gus Dur sebagai presiden dan Megawati Soekarnoputri sebagai wakilnya. Sebagai seorang presiden, Gus Dur memiliki cara yang berbeda untuk menyikapi suatu masalah. Ia melakukan pendekatan simpatik kepada GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan mengayomi etnis Tionghoa.
Load more