News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Dari Anak Pedagang Batik ke Raja Finansial: Jejak Panjang, Kekayaan, dan Kontroversi Mochtar Riady

Perjalanan Mochtar Riady dari anak pedagang batik hingga membangun Lippo Group, lengkap dengan kisah sukses perbankan, kekayaan triliunan, dan kontroversi bisnis besar.
Senin, 23 Februari 2026 - 14:06 WIB
Dari Anak Pedagang Batik ke Raja Finansial: Jejak Panjang, Kekayaan, dan Kontroversi Mochtar Riady
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, tvOnenews.com - Nama Mochtar Riady sudah lama dikenal sebagai salah satu arsitek besar dunia perbankan dan properti Indonesia. Pendiri Lippo Group ini bukan hanya membangun kerajaan bisnis lintas sektor, tetapi juga menorehkan perjalanan hidup penuh liku—dari masa kecil sederhana, kebangkitan di industri bank, hingga berbagai kontroversi proyek raksasa yang menyita perhatian publik.

Lahir di Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1929, dengan nama Lie Moe Tie, Mochtar berasal dari keluarga perantau Fujian, Tiongkok. Ayahnya adalah pedagang batik, sebuah latar belakang yang jauh dari dunia finansial modern. Namun sejak kecil, ia sudah memiliki mimpi besar: menjadi bankir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Cita-cita itu muncul dari kebiasaan masa kecilnya yang setiap hari melewati kantor bank peninggalan Belanda. Ia terpukau melihat pegawai bank berpakaian rapi dan bekerja dengan disiplin. Dari situlah ambisinya tumbuh—ia ingin menjadi bagian dari dunia tersebut.

Dari Toko Kecil ke Dunia Perbankan

Karier Mochtar tidak langsung melesat. Ia memulai dengan membantu usaha toko milik mertuanya di Jember. Di tangannya, toko itu berkembang pesat hingga menjadi salah satu yang terbesar di kota tersebut. Pengalaman ini membentuk insting bisnisnya sebelum benar-benar masuk sektor keuangan.

Pada 1954, ia hijrah ke Jakarta untuk mengejar impian menjadi bankir. Kesempatan datang ketika ia diminta membantu bank bermasalah milik pengusaha Andi Gappa. Di sanalah ia dipercaya menjadi direktur dan mulai belajar perbankan dari nol—bahkan ia mengaku awalnya tidak memahami laporan akuntansi.

Belajar secara otodidak, Mochtar justru menemukan kekuatannya: membenahi manajemen, membangun kepercayaan nasabah, dan menciptakan strategi pemasaran agresif. Kemampuan inilah yang kemudian membuat namanya dikenal luas di industri keuangan.

Peran Penting dalam Lahirnya Bank Besar

Pada 1971, ia terlibat dalam penggabungan sejumlah bank yang kemudian melahirkan Panin Bank, salah satu bank swasta nasional yang masih bertahan hingga kini.

Reputasinya semakin melambung ketika ia bergabung dengan Bank Central Asia pada 1975. Di sana, Mochtar dikenal sebagai sosok yang berhasil melakukan transformasi besar. Aset bank yang semula relatif kecil melonjak drastis dalam beberapa tahun.

Keberhasilannya di dunia pemasaran bank membuatnya dijuluki “The Magic Man of Bank Marketing”—karena dianggap mampu mengubah bank biasa menjadi institusi keuangan yang sangat kompetitif.

Membangun Imperium Lippo Group

Pada awal 1980-an, Mochtar mulai membangun fondasi bisnisnya sendiri dengan mengakuisisi Bank Perniagaan Indonesia. Nilai aset bank itu disebut melonjak hingga 1.500 persen setelah direstrukturisasi.

Merger lanjutan pada 1988 melahirkan Lippobank, yang kemudian berkembang menjadi Lippo Group. Dari sinilah kerajaan bisnis Riady melebar ke berbagai sektor: perbankan, properti, kesehatan, ritel, hingga pendidikan.

Lippo Group dikenal sebagai pengembang kota mandiri, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan berbagai proyek properti berskala besar, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Ekspansi internasional turut diperkuat melalui jaringan bisnis di Hong Kong dan negara lain, yang kini banyak dijalankan oleh generasi kedua keluarga Riady.

Kekayaan dan Pengaruh Global

Menurut data Forbes tahun 2025, kekayaan Mochtar Riady dan keluarganya mencapai sekitar US$2,7 miliar atau setara lebih dari Rp44 triliun. Angka tersebut menempatkannya dalam jajaran elite taipan Asia Tenggara yang membangun kekayaan dari sektor finansial dan real estat.

Namun bagi Mochtar, bisnis bukan sekadar soal angka. Ia dikenal memiliki filosofi kerja yang disebut “Lie Yi Lian Dje”—yang menekankan keramahan, karakter baik, kejujuran, dan rasa malu sebagai dasar etika berbisnis.

Pernah Terlibat Perjuangan Kemerdekaan

Satu sisi yang jarang diketahui publik adalah keterlibatan Mochtar dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada 1947, ia pernah ditangkap oleh Belanda dan ditahan di Malang sebelum akhirnya dibuang ke Tiongkok.

Di pengasingan itulah ia melanjutkan pendidikan di Universitas Nanjing, sebelum kembali ke Indonesia dan juga menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Pengalaman ini membentuk karakter tahan banting yang kelak menjadi ciri kepemimpinannya.

Kontroversi dan Sorotan Publik

Di balik kesuksesan besar, perjalanan bisnis Lippo Group tidak lepas dari kontroversi. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah megaproyek kota baru Meikarta di Cikarang.

Proyek tersebut sempat terseret kasus hukum pada 2018 setelah Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap dugaan suap perizinan yang melibatkan sejumlah pihak di tingkat daerah dan eksekutif perusahaan. Kasus ini berujung pada vonis pidana terhadap pejabat daerah dan individu terkait, meski tidak menyeret Mochtar Riady secara personal.

Selain itu, polemik lain muncul ketika pengembang proyek menggugat sejumlah konsumen yang meminta pengembalian dana karena unit apartemen yang dijanjikan belum terealisasi sesuai jadwal.

Kontroversi tersebut menjadi pengingat bahwa proyek berskala raksasa selalu membawa risiko besar—baik secara bisnis maupun reputasi.

Warisan Bisnis Seorang Visioner

Kini, di usia yang mendekati satu abad, Mochtar Riady tidak lagi aktif dalam operasional harian. Kendali bisnis banyak diteruskan kepada anak-anaknya, termasuk James dan Stephen Riady, yang melanjutkan ekspansi Lippo Group di berbagai sektor.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski demikian, namanya tetap identik dengan transformasi perbankan modern Indonesia dan lahirnya konglomerasi yang berpengaruh di kawasan Asia.

Kisah Mochtar Riady adalah potret klasik tentang ketekunan imigran, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan membaca peluang zaman—sebuah perjalanan dari anak pedagang batik menjadi salah satu tokoh finansial paling berpengaruh di Indonesia. (nsp)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Polisi Siapkan Pengamanan 3 Lapis Sidang Roy Suryo yang Dihadiri Jokowi Hari Ini, Brimob dan Intelijen Dikerahkan

Polisi Siapkan Pengamanan 3 Lapis Sidang Roy Suryo yang Dihadiri Jokowi Hari Ini, Brimob dan Intelijen Dikerahkan

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), dijadwalkan hadir sebagai saksi dalam perkara dugaan pencemaran nama baik yang menjerat Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma.
Ada Rekayasa Lalu Lintas Imbas Sidang Dugaan Ijazah Jokowi di PN Jakarta Timur, Pengendara Sebaiknya Hindari Jalan Ini

Ada Rekayasa Lalu Lintas Imbas Sidang Dugaan Ijazah Jokowi di PN Jakarta Timur, Pengendara Sebaiknya Hindari Jalan Ini

Calon pengendara sebaiknya hindari jalur ini imbas rekayasa lalu lintas sidang dugaan ijazah palsu Presiden RI ke-7 Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Kata Suami Korban Soal Pelaku Pembunuhan dan Perampokan di Indramayu: Tetangga yang Sering Diberi Pekerjaan

Kata Suami Korban Soal Pelaku Pembunuhan dan Perampokan di Indramayu: Tetangga yang Sering Diberi Pekerjaan

Menurut keterangan dari suami korban, terduga pelaku pembunuhan disertai perampokan di Indramayu adalah tetangga yang sering diberikan pekerjaan oleh Komariyah.
Pakar Hukum Bongkar Tiga Syarat Mutlak Penyadapan agar Tidak Dianggap Ilegal

Pakar Hukum Bongkar Tiga Syarat Mutlak Penyadapan agar Tidak Dianggap Ilegal

Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh penting oleh tiga tersangka, yakni LSP, ASN, dan EH terus menuai sorotan. 
Jokowi Hadir Sebagai Saksi, PN Jaktim Terapkan Aturan Ketat untuk Pengunjung Sidang

Jokowi Hadir Sebagai Saksi, PN Jaktim Terapkan Aturan Ketat untuk Pengunjung Sidang

Pengadilan Negeri Jakarta Timur menerapkan aturan ketat pada sidang agenda pembuktian kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, yang digelar hari ini, Kamis (5/11). 
Shin Tae-yong Dikonfirmasi Alami Influenza Tipe A, Tetap Pantau Persija Meski Dirawat di Rumah Sakit

Shin Tae-yong Dikonfirmasi Alami Influenza Tipe A, Tetap Pantau Persija Meski Dirawat di Rumah Sakit

Alasan Shin Tae-yong tak dampingi Persija Jakarta saat away ke PSMS Medan adalah karena sang pelatih terkena Influenza tipe A dan sepekan dirawat di rumah sakit

Trending

Temui Presiden Prabowo di Istana, Mualem Bahas Nasib Dana Otsus hingga Bendera Aceh

Temui Presiden Prabowo di Istana, Mualem Bahas Nasib Dana Otsus hingga Bendera Aceh

Presiden Prabowo Subianto menerima kedatangan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/11).
Kata Suami Korban Soal Pelaku Pembunuhan dan Perampokan di Indramayu: Tetangga yang Sering Diberi Pekerjaan

Kata Suami Korban Soal Pelaku Pembunuhan dan Perampokan di Indramayu: Tetangga yang Sering Diberi Pekerjaan

Menurut keterangan dari suami korban, terduga pelaku pembunuhan disertai perampokan di Indramayu adalah tetangga yang sering diberikan pekerjaan oleh Komariyah.
Hari Ini Jokowi Hadiri Sidang Roy Suryo di PN Jakarta Timur

Hari Ini Jokowi Hadiri Sidang Roy Suryo di PN Jakarta Timur

Kepolisian menyiapkan pengamanan dalam sidang kasus tudingan ijazah palsu Jokowi dengan terdakwa Roy Suryo di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11). 
Deretan Pemenang AMI Awards 2026: dari Idgitaf, Tulus, Cakra Khan hingga Burgerkill

Deretan Pemenang AMI Awards 2026: dari Idgitaf, Tulus, Cakra Khan hingga Burgerkill

Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2026 mengumumkan berbagai musik hingga grup musik yang meraih penghargaan dari 67 kategori termasuk 4 kategori tambahan.
Jokowi Hadir Sebagai Saksi, PN Jaktim Terapkan Aturan Ketat untuk Pengunjung Sidang

Jokowi Hadir Sebagai Saksi, PN Jaktim Terapkan Aturan Ketat untuk Pengunjung Sidang

Pengadilan Negeri Jakarta Timur menerapkan aturan ketat pada sidang agenda pembuktian kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, yang digelar hari ini, Kamis (5/11). 
Diminta Shin Tae-yong Ucap 'Gue Persija', Egy Maulana Vikri Malu-malu

Diminta Shin Tae-yong Ucap 'Gue Persija', Egy Maulana Vikri Malu-malu

Egy Maulana Vikri tersipu malu ketika Shin Tae-yong memintanya untuk mengucapkan 'Gue Persija' disertai menunjukkan simbol jari jempol telunjuk khas Jakmania.
Geger! Orang Tua Ajak Anak Berusia 3 Tahun Naik Bukit Jalur Ekstrim Tanpa Pengaman, Warganet Geram

Geger! Orang Tua Ajak Anak Berusia 3 Tahun Naik Bukit Jalur Ekstrim Tanpa Pengaman, Warganet Geram

Viral di media sosial seorang anak balita berusia 3 tahun di Tenggarong diajak oleh orang tuanya mendaki Bukit Biru yang jalurnya dikenal terjal tanpa pengaman.
Selengkapnya

Viral