Petani Sawit Masih Hadapi Banyak Kendala, Akses Informasi hingga Pendampingan Jadi Sorotan
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Petani sawit swadaya di Indonesia hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi produktivitas kebun dan kesejahteraan mereka. Di tengah meningkatnya kebutuhan industri sawit nasional, banyak petani masih kesulitan memperoleh akses informasi, pendampingan teknis, hingga edukasi budidaya yang memadai.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani sawit belum mampu menerapkan praktik budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) secara optimal. Akibatnya, kualitas dan produktivitas tandan buah segar (TBS) di sejumlah daerah masih tergolong rendah.
Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi petani sawit swadaya yakni penggunaan benih tidak standar atau benih ilegal karena keterbatasan modal dan minimnya informasi. Situasi itu berdampak langsung terhadap hasil panen yang tidak maksimal.
Selain persoalan benih, banyak petani sawit juga masih menghadapi kendala dalam pemupukan, pengendalian hama, hingga praktik panen yang sesuai standar. Kurangnya pemahaman terkait dosis pupuk, waktu aplikasi, dan pengelolaan kebun membuat biaya produksi menjadi tidak efisien.
Tak hanya itu, persoalan legalitas lahan seperti Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) juga masih menjadi hambatan bagi petani sawit untuk mengakses program peremajaan sawit rakyat (PSR) maupun sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Di sisi lain, kebutuhan energi nasional yang terus meningkat membuat sektor sawit kini memiliki peran strategis dalam mendukung program biodiesel B50 yang tengah didorong pemerintah. Karena itu, peningkatan kapasitas petani sawit dinilai menjadi langkah penting agar pasokan bahan baku industri tetap terjaga secara berkelanjutan.
Petani Sawit Dinilai Butuh Pendampingan Intensif
Penguatan kapasitas petani sawit dinilai tidak cukup hanya melalui sosialisasi satu arah. Petani membutuhkan pendampingan lapangan yang lebih intensif agar dapat memahami praktik budidaya yang benar secara langsung.
Selain itu, penguatan kelembagaan seperti koperasi dan kelompok tani juga menjadi faktor penting dalam membantu petani memperoleh akses pupuk bersubsidi, benih unggul, hingga pelatihan teknis.
Digitalisasi informasi pertanian juga mulai menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi petani sawit di wilayah terpencil yang masih kesulitan memperoleh akses edukasi budidaya modern.
Load more