Disiksa dengan Cara Dijemur Sembari Telungkup, Relawan: Dipaksa Dengar Lagu Israel Selama 2 Jam
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 asal Indonesia Rahendro Herubowo mengungkap, perlakuan brutal yang dialaminya selama ditahan otoritas Israel usai kapal kemanusiaan yang ditumpanginya dicegat di Laut Mediterania.
Heru mengaku dirinya bersama relawan lain dipaksa telungkup berjam-jam di bawah terik matahari sambil diperdengarkan lagu Israel berulang-ulang oleh petugas.
Kesaksian itu disampaikan Heru setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026), setelah berhasil dipulangkan ke Indonesia.
“Dan itu cukup menguras tenaga ya, bahkan pas terakhir sebelum kita dibawa ke imigrasi, kita harus jongkok, dijemur jam 12 siang itu dijemur dengan posisi telungkup, kita suruh mendengarkan lagu mereka, lagu Israel,” kata Heru.
Menurutnya, lagu tersebut diputar terus menerus selama sekitar dua jam ketika para relawan berada dalam posisi telungkup di bawah panas matahari.
“Saya nggak tahu lagu apa, durasi lagunya itu kurang lebih satu menit, diputar ulang selama dua jam. Itu yang cukup menguras tenaga,” ujarnya.
Heru mengatakan perlakuan kasar tidak berhenti di situ. Setelah dijemur, para relawan kembali dipaksa telungkup untuk menunggu antrean pemeriksaan imigrasi selama berjam-jam.
“Dan setelah itu dibawa ke imigrasi juga kita harus telungkup untuk menunggu antrean selama dua jam,” ungkapnya.
“Jadi 4 sampai 5 jam lah kita telungkup terus di situ. Bangun sedikit, diteriakin sama mereka, ‘Head down! Head down!’ Waduh, pokoknya mereka itu ya cukup kasarlah bisa dibilang begitu,” sambung Heru.
Selain tekanan fisik, Heru juga menceritakan adanya dugaan penyiksaan lain selama proses penahanan. Ia menyebut petugas Israel membuat ruangan khusus yang diduga digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap tahanan.
“Kalau penyiksaan terparahnya sih pada saat kami datang ya. Kami datang dibawa ke kapal, itu yang ruang eksekusi pertama. Dan terakhir sebelum ke imigrasi,” katanya.
“Jadi mereka itu membuat bilik-bilik di mana salah satu bagian bilik itu juga ya memang tempat buat kayaknya khusus untuk mengeksekusi kita gitu,” lanjutnya.
Selama perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain, para relawan disebut terus menerima perlakuan kasar mulai dari diborgol ketat hingga ditendang.
Load more