Rupiah Menguat ke Rp 17.737 usai Pasar Respons Positif Rencana Pemerintah Pangkas Kuota BBM Subsidi
- Antara
Jakarta, tvOnenews.co. - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak menguat pada perdagangan hari ini, Jumat 21/8/2026).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.779 pada Kamis, 20 Agustus 2026. Posisi rupiah itu menguat 65 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.844 pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 21 Agustus 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.737 per dolar AS. Posisi itu menguat 11 poin atau 0,06 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.748 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespon positif rencana pemerintah memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027. Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite.
Pengurangan subsidi BBM tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi, dan menjadi salah satu dasar dalam menentukan penurunan subsidi BBM tertentu pada 2027.
Dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.
Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel pada 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran US$83 per barel atau di angka Rp 17.500.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari.
Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi. Karenanya, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi.
Selain itu, sikap hati-hati para investor masih terus membayangi pasar, menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal II-2026 yang dijadwalkan pekan ini. Mengingat defisit pada kuartal I-2026 sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019, karena kinerja perdagangan melemah akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah yang meyebabkan harga minyak mentah dunia terus menguat.
Load more