Di Forum EEF, Presiden Prabowo Tegaskan Pertumbuhan Harus Diukur dari Meja Makan Keluarga Biasa
- Youtube/Setpres
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak boleh sekadar mengejar angka tinggi.
Menurut dia, pertumbuhan harus memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari pemenuhan pangan hingga tersedianya pekerjaan yang produktif.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9).
Prabowo mengatakan filosofi ekonomi Indonesia yang dibawanya berangkat dari tiga prinsip, yakni realisme, pragmatisme, dan upaya mencapai kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang.
“Tahun lalu, di St. Petersburg, saya menjelaskan filosofi ekonomi Indonesia sebagai realisme, pragmatisme, dan upaya mencapai kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang,” tutur dia.
Dalam menjalankan pembangunan ekonomi, Prabowo menegaskan pemerintah tetap memberi ruang besar bagi dunia usaha, inisiatif, kreativitas, dan inovasi.
Namun, pada saat yang sama, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembangunan tidak hanya dinikmati kelompok tertentu.
“Kami percaya pada dunia usaha, inisiatif, kreativitas, dan inovasi. Namun, kami juga percaya bahwa pemerintah harus melindungi kelompok yang lemah, mengelola sumber daya nasional dengan baik, memberantas korupsi, serta berinvestasi untuk kebutuhan jangka panjang rakyat dan bangsa,” tegas dia.
Karena itu, Prabowo menilai keberhasilan pembangunan semestinya tidak hanya dilihat melalui indikator makroekonomi. Ukuran paling nyata justru berada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Itulah arti pembangunan untuk kepentingan rakyat bagi Indonesia. Kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang. Pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang,” ungkap dia.
Prabowo kemudian menggambarkan ukuran pembangunan tersebut dari kondisi keluarga Indonesia.
Menurutnya, pembangunan harus dapat dirasakan langsung di meja makan masyarakat, termasuk melalui kecukupan gizi, kesejahteraan petani, kepemilikan rumah layak, hingga kesempatan kerja bagi generasi muda.
“Pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga-keluarga biasa. Apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Apakah petani dapat memperoleh pupuk dan menjual hasil produksinya dengan harga yang adil,” ujar Prabowo.
“Apakah keluarga dapat tinggal di rumah yang layak. Apakah anak-anak muda dapat memperoleh pekerjaan yang produktif,” lanjutnya.
Selain itu, Prabowo menempatkan akses listrik hingga ke seluruh desa sebagai bagian dari ukuran keberhasilan pembangunan.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
“Dan apakah listrik dapat menjangkau setiap rumah di setiap desa,” ucap dia.
Atas dasar itu, pemerintah menjalankan sejumlah agenda yang disebut Prabowo sebagai bagian dari filosofi pembangunan untuk kepentingan rakyat.
Salah satunya melalui penyediaan makanan bergizi gratis bagi anak-anak dan ibu hamil.
“Itulah sebabnya Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi seluruh anak-anak kita dan para ibu hamil,” serunya.
“Itulah sebabnya kami terus mengupayakan swasembada pangan dan ketahanan energi,” lanjut dia.
Di sektor industri, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus mempercepat hilirisasi. Kebijakan tersebut diarahkan agar kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi mampu menciptakan aktivitas industri, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta membuka lapangan pekerjaan di dalam negeri.
“Itulah sebabnya kami mempercepat hilirisasi industri agar sumber daya alam kita dapat menciptakan industri, keterampilan, dan lapangan kerja yang baik di dalam negeri,” katanya.
Prabowo menegaskan seluruh agenda tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat sekaligus lebih inklusif.
“Itulah sebabnya kami menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Bukan pertumbuhan hanya demi pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang dapat mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang bermartabat,” tandasnya. (agr/dpi)
Load more