Soal KMP Batumandi, Kesiapsiagaan Krisis dan Investigasi Jadi Kunci Perbaikan
- ist
Kerusakan struktur kapal akibat paparan suhu ekstrem, kebocoran pada lambung, masuknya air laut, hingga tidak berfungsinya pompa pembuangan air dapat mempercepat hilangnya kemampuan kapal untuk bertahan di permukaan.
Situasi tersebut berpotensi menjadi lebih buruk apabila kerusakan juga terjadi pada sistem kelistrikan dan permesinan yang menyebabkan pompa tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Di sisi lain, gangguan sistem kemudi dapat memengaruhi kemampuan kapal dalam mempertahankan posisinya saat menghadapi tekanan angin dan arus laut.
Meski demikian, Capt. Hakeng menekankan bahwa seluruh kemungkinan tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, penelusuran data operasional, serta analisis terhadap kondisi bangkai kapal.
Karena itu, penentuan penyebab utama tenggelamnya KMP Batumandi harus mengacu pada hasil penyelidikan menyeluruh dan bukan sekadar dugaan.
“Investigasi harus mampu menjelaskan urutan kejadian secara menyeluruh, mulai dari sumber kebakaran, perkembangan api, kondisi kapal selama penanganan, hingga faktor yang menyebabkan kapal kehilangan daya apung. Hasilnya harus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan, bukan sekadar penjelasan mengenai satu kecelakaan,” tegas Capt. Hakeng yang juga aktif pada Bidang Hukum di DPP INSA.
Dalam penilaiannya, Capt. Hakeng menyebut keberhasilan proses evakuasi sebagai salah satu aspek utama yang layak mendapat perhatian.
Terselamatkannya seluruh penumpang dan awak kapal memperlihatkan pentingnya kesiapan dalam menghadapi kondisi darurat. Meski begitu, keberhasilan tersebut tetap harus diikuti evaluasi terhadap kelengkapan alat keselamatan, kemampuan awak, sistem komunikasi, serta koordinasi dengan tim penyelamat.
Ia berpandangan bahwa setiap insiden pelayaran semestinya dijadikan bahan pembelajaran untuk meningkatkan budaya keselamatan di lingkungan industri maritim.
Program pelatihan rutin, simulasi penanganan kebakaran, pengecekan peralatan keselamatan, dan penerapan prosedur evakuasi yang telah teruji harus menjadi bagian dari kegiatan operasional kapal penyeberangan.
Capt. Hakeng juga menegaskan bahwa tanggung jawab dalam penanganan kecelakaan kapal tidak selesai hanya dengan berhasilnya seluruh penumpang dievakuasi.
Ancaman pencemaran perairan, gangguan terhadap jalur navigasi, hingga potensi bahaya akibat keberadaan bangkai kapal tetap membutuhkan penanganan secara terencana.
Apabila ditemukan risiko kebocoran bahan bakar ataupun minyak pelumas, penggunaan perangkat seperti *oil boom* dan *oil skimmer* dapat menjadi salah satu opsi penanggulangan dengan mempertimbangkan situasi di lapangan.
Load more