Prabowo Sudah Membaca Masa Depan: Perang Modern Dimenangkan oleh Logistik, Bukan Senjata
- Istimewa
Penulis: Marsma TNI Hikmat Zakky Almubaroq, Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Logisitik Militer Universitas Pertahanan RI
tvOnenews.com - Ada satu pernyataan yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan berpikir ulang.
Pada bulan April 2025, di Hambalang, di hadapan para pemimpin redaksi media nasional, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sesuatu yang tidak banyak disadari publik, ia mengatakan bahwa siang dan malam ia telah mempelajari secara intens, akan kemungkinan terjadinya konflik antara Amerika–Israel melawan Iran.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti isu yang jauh. Seperti konflik di belahan dunia lain yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari.
Namun justru di situlah letak persoalannya. Ini bukan sekadar perhatian geopolitik. Ini adalah cara pandang strategis bahwa perang yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat langsung mengganggu sistem kehidupan Indonesia.
Ketika Dunia Berubah, Cara Perang juga Berubah
Apa yang dibaca oleh Prabowo sebenarnya sejalan dengan perubahan besar dalam strategi perang global.
Sebuah analisis strategis terbaru menunjukkan bahwa dunia telah bergeser dari perang berbasis kekuatan senjata menuju perang pelemahan sistem (modern attrition warfare).
Jika dulu yang diserang adalah tank, pesawat, dan wilayah, kini yang menjadi sasaran justru logistiknya, ekonominya, dan psikologi masyarakatnya.
Tujuannya bukan sekadar menang cepat, tetapi membuat lawan runtuh perlahan dari dalam. Perang tidak lagi harus menghancurkan secara fisik. Cukup membuat satu negara kehabisan napas secara sistemik.
Realitas Indonesia: Rentan di Titik yang Tidak Terlihat
Mari kita bicara jujur, cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia saat ini berada pada kisaran 20–23 hari konsumsi nasional, sebagaimana disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Angka ini jauh di bawah standar negara maju. Negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) menetapkan cadangan minimal 90 hari impor bersih sebagai standar ketahanan energi.
Artinya, dari perspektif ketahanan energi, Indonesia masih berada dalam posisi rentan secara struktural.
Padahal, Indonesia pernah menjadi eksportir minyak besar dan anggota OPEC. Namun sejak 2009 keluar dari OPEC dan sejak 2016 menjadi pengimpor minyak, kondisi berubah drastis.
Sumur-sumur tua mengalami penurunan produksi. Sementara pembukaan ladang baru membutuhkan investasi besar. Akibatnya, ketergantungan terhadap impor menjadi tidak terhindarkan.
Paradoks Energi dan Rantai Pasok Indonesia
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, impor energi Indonesia terbesar berasal dari Singapura.
Artinya, yang kita impor bukan hanya minyak mentah, tetapi juga BBM jadi (refined fuel) seperti bensin, solar, dan avtur. Hal ini terjadi karena kapasitas kilang dalam negeri belum mencukupi.
Minyak dari Timur Tengah dan Afrika diangkut oleh tanker melewati Selat Hormuz, kemudian melintasi Samudera Hindia, lalu menuju perairan Asia Tenggara dan selanjutnya diproses di kilang Singapura untuk kemudian dikirim ke Indonesia.
Dari situ, distribusi masih harus dilanjutkan untuk menjangkau lebih dari 17.000 pulau di Indonesia. Ini bukan sekadar distribusi biasa.
Ini adalah tantangan logistik berskala raksasa yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Dan di sinilah letak ancamannya. Gangguan kecil di satu titik saja bisa berdampak besar ke seluruh system.
Tidak Ada yang Benar-benar Jauh
Di sinilah letak inti pemikiran strategis Prabowo. Konflik di Timur Tengah saat ini bukan sesuatu yang jauh. Apa yang terjadi di Timur Tengah bisa memengaruhi nelayan di Morotai atau penjual gorengan di Cimahi.
Gangguan di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia dapat langsung berdampak pada Indonesia yaitu terjadinya kenaikan harga BBM, meningkatnya biaya logistik, dan tekanan inflasi nasional.
Ketika seseorang mengisi bensin di SPBU, sebenarnya ia sudah terhubung dengan ladang minyak di Afrika dan Timur Tengah, kapal tanker lintas samudera, kilang di Singapura, dan jaringan distribusi nasional.
Di sinilah kita menyadari bahwa Energi tidak pernah menjadi isu lokal. Energi adalah isu geopolitik global.
Logistik: Jantung yang Menentukan Hidup-Mati Negara
Dalam sebuah dokumen analisis berjudul Hegemonic Collapse ditegaskan: “Amateurs talk strategy, professionals talk logistics.”
Pesawat tempur paling canggih sekalipun tidak berguna tanpa bahan bakar.
Teknologi militer paling mahal bisa lumpuh hanya karena sistem logistik terganggu. Bahkan dalam skenario perang modern, yang diserang bukan lagi pesawatnya, tetapi kemampuan pesawat itu untuk beroperasi.
Ini Adalah suatu pergeseran besar paradigma: dari menghancurkan alat, menjadi menghancurkan fungsi.
Perang hari ini bukan lagi soal siapa yang paling kuat, Tetapi siapa yang paling bisa bertahan. Dalam konsep modern disebut sebagai: “symmetry of pain”, membuat lawan ikut menderita hingga tidak mampu bertahan.
Perang Tanpa Tembakan
Dalam dinamika global saat ini, sebuah negara dapat melemah tanpa invasi militer. Caranya:
• logistiknya diputus menyebabkan sistem lumpuh
• ekonominya ditekan mengakibatkan biaya meningkat
• psikologi publik diganggu menghasilkan kepanikan
• tekanan dilakukan berulang, maka akan terjadi kelelahan nasional
Hasil akhirnya bisa berupa krisis politik, hilangnya legitimasi, eksodus warga, dan brain drain, tanpa satu pun peluru ditembakkan.
Mengapa Langkah Prabowo Tepat
Dalam konteks inilah arah kebijakan Prabowo menjadi sangat relevan. Ketika banyak negara masih fokus pada pembelian alutsista, pendekatan yang diambil justru memperkuat fondasi yang lebih mendasar:
• logistik nasional
• ketahanan pangan dan gizi
• kualitas pendidikan
• membentuk komponen cadangan
• kemandirian energi
• konektivitas distribusi
• industrialisasi berbasis rantai pasok
Sekilas terlihat tidak militer. Padahal justru inilah inti pertahanan modern. Karena dalam perang hari ini, yang diserang pertama bukan pasukan, melainkan sistem ketahanan bangsa.
Apa yang dilakukan Prabowo hari ini adalah membangun sesuatu yang tidak kasat mata tetapi paling menentukan.
Ia membangun sebuah sistem yang membuat bangsa ini; tetap makan, tetap bergerak, tetap berfungsi, di tengah tekanan global. Karena negara yang mampu bertahan secara sistemik, adalah negara yang tidak mudah dikalahkan.
Perang Sudah Berubah
Inilah perubahan paling mendasar dalam konsep perang modern. Dulu, kemenangan ditentukan oleh kekuatan. Kini, kemenangan ditentukan oleh ketahanan nasionalnya.
Negara tidak harus lebih kuat, tetapi harus mampu bertahan lebih lama. Perang modern tidak lagi sekadar menghancurkan militer lawan, tapi yang menjadi sasarannya adalah:
• logistik
• ekonomi
• psikologi masyarakat
Tujuannya bukan kemenangan cepat, tetapi keruntuhan sistemik secara bertahap.
Indonesia: Kuat, Tapi Harus Siap
Indonesia memiliki keunggulan terutama di bidang sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang Tengah memasuki bonus demografi, dan posisi strategis di jalur pelayaran dunia.
Namun tanpa sistem logistik dan energi yang kuat, keunggulan tersebut dapat berubah menjadi kerentanan. Gangguan kecil dalam rantai pasok global dapat berdampak besar di dalam negeri.
Membangun Benteng yang Tidak Terlihat
Apa yang dilakukan saat ini bukan sekadar kebijakan ekonomi. Ini adalah upaya membangun arsitektur pertahanan masa depan Indonesia. Sebuah pertahanan yang tidak lagi semata bertumpu pada senjata, tetapi pada ketahanan sistem kehidupan bangsa.
Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya, menjaga kelancaran distribusinya, dan mengamankan energinya, adalah negara yang tidak mudah dijatuhkan.
Di sinilah kita harus mengubah cara pandang. Perang masa depan tidak lagi dimulai di medan tempur.
Ia bermula dari ladang dan perkebunan, dari pelabuhan dan kilang minyak, dari jalur distribusi dan kekuatan logistik, serta dari ketahanan psikologis masyarakatnya.
Karena pada akhirnya, yang menentukan kemenangan bukan hanya kekuatan untuk menyerang, tetapi kemampuan untuk bertahan. (*)
Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Load more