News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Feri Amsari, Berhenti Fitnah Kerja 115 Juta Petani Indonesia!

Pernyataan Feri Amsari yang menyebut swasembada pangan sebagai “kebohongan” Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar keliru, melainkan tudingan yang menyakiti 115 juta petani Indonesia yang setiap hari bekerja memastikan negeri ini tidak kekurangan pangan.
Rabu, 15 April 2026 - 10:07 WIB
Feri Amsari, Berhenti Fitnah Kerja 115 Juta Petani Indonesia
Sumber :
  • Istimewa

Oleh: Prof. Hasil Sembiring

Pernyataan Feri Amsari yang menyebut swasembada pangan sebagai “kebohongan” Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar keliru, melainkan tudingan yang menyakiti 115 juta petani Indonesia yang setiap hari bekerja memastikan negeri ini tidak kekurangan pangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan tersebut terasa lebih sebagai opini sesat daripada hasil riset. Ibarat seseorang yang baru keluar dari goa, melihat secuil kenyataan masa lalu, dan merasa paling memahami kondisi bangsa.

Bahkan, terasa ironis ketika keinginan untuk dikenal justru ditempuh dengan cara merendahkan kerja keras orang lain.

Kasihan jika ingin terkenal harus memanfaatkan tudingan yang berpotensi menjadi fitnah keji terhadap hasil kerja petani bangsa sendiri.

Teringat dulu dalam ceramahnya, Zainuddin MZ pernah mengingatkan agar tidak mencari ketenaran dengan cara yang tidak baik, bahkan dengan analogi ekstrem, “Kalau ingin terkenal, jangan dengan cara konyol seperti kencing dari atas Monas”. Pesannya jelas, popularitas yang dibangun dari sensasi murahan bukanlah kehormatan.

Dalam falsafah Minangkabau dikenal ungkapan “mancari namo di ateh malu urang”, yaitu mencari nama dengan mempermalukan orang lain. Apa yang terjadi hari ini terasa persis seperti itu.

Padahal fakta sangat jelas dan tidak datang dari satu sumber saja. Data tahun 2025/2026 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya kenaikan produksi gabah 7,1 juta ton, yang setara dengan sekitar 4,1 juta ton beras, sehingga menciptakan surplus dibanding kebutuhan nasional yang hanya 30,5 juta ton.

Tercatat angka tetap produksi beras nasional menurut BPS mencapai 34,69 juta ton. Ini data dengan akurasi dan validasi lapangan yang tinggi.

Hal ini sejalan dengan prediksi Food and Agriculture Organization dan United States Department of Agriculture yang menyatakan bahwa produksi Indonesia untuk 2025 sejumlah 34,6 juta ton beras.

Menariknya, di samping luas lahan baku sawah bertambah karena cetak sawah baru, berdampak pada satu “ilmu penting” yang tidak dikuasai Feri Amsari, yaitu luas panen malah meningkat 1,3 juta hektare atau 12,7% dibandingkan 2024!

Perlu ditegaskan, ini bukan data Kementerian Pertanian, melainkan data independen nasional dan internasional.

Presiden Prabowo melarang Kementan mengeluarkan data agar apa? Agar analisa kacau macam anda ini tidak makin bias di ruang publik.

Kenaikan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja sistematis yang bisa dihitung secara terbuka.

Hal inilah yang disebutkan sebagai peningkatan Indeks pertanaman (IP) sebagai hasil dari intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Bahkan, jika dibedah lebih dalam, sumber kenaikan produksi tersebut sangat jelas berasal dari tiga program utama pemerintah yang dapat dihitung secara matematis dan transparan.

Program pertama adalah pompanisasi, yaitu pengelolaan air menggunakan pompa untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP).

Program ini menjangkau sekitar 1,1 juta hektare lahan. Dengan asumsi tambahan satu kali tanam dan produktivitas rata-rata 5,5 ton gabah per hektare, program ini menghasilkan tambahan sekitar 6,05 juta ton gabah, atau sekitar 56,4 persen dari total peningkatan produksi.

Ini menjadi kontributor terbesar karena memaksimalkan lahan eksisting yang sebelumnya hanya ditanam satu kali menjadi dua kali atau lebih.

Program kedua adalah optimalisasi lahan (oplah) rawa, yang menghidupkan kembali sekitar 800 ribu hektare lahan rawa, tadah hujan, dan lahan marginal di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua Selatan.

Melalui perbaikan tata air dan peningkatan indeks pertanaman, program ini menghasilkan tambahan sekitar 4,4 juta ton gabah, atau sekitar 41 persen kontribusi terhadap total peningkatan.

Ini adalah kombinasi antara intensifikasi dan aktivasi lahan yang sebelumnya kurang produktif.

Program ketiga adalah cetak sawah baru, yaitu pembukaan lahan baru sekitar 50 ribu hektare.

Dengan produktivitas rata-rata yang sama, program ini memberikan tambahan sekitar 275 ribu ton gabah, atau sekitar 2,6 persen.

Meskipun kontribusinya belum signifikan, program ini penting sebagai fondasi jangka panjang dalam memperluas basis produksi nasional.

Dalam jangka panjang lahan cetak sawah akan mengganti lahan-lahan pertanian yang telah dikonversi untuk  kebutuhan lainnya.

Jika seluruh potensi ketiga program tersebut dihitung secara maksimal, total tambahan produksi di tahun 2025 mencapai sekitar 10,7 juta ton gabah.

Namun dengan pendekatan realistis sebesar 80 persen untuk mengakomodasi faktor lapangan seperti cuaca, kesiapan petani, dan variasi produktivitas, maka realisasi tambahan produksi berada di angka sekitar 8,58 juta ton gabah, atau setara dengan sekitar 4,55 juta ton beras.

Makanya, catatan produksi yang luar biasa ini mampu membalikkan IMPOR menjadi SURPLUS!

Tahun 2024 kita masih impor 3,6 juta ton akibat El Nino, tahun 2025 Indonesia NOL KILOGRAM impor beras medium. 

Angka ini konsisten dengan data resmi nasional dan internasional. Ini bukan asumsi. Ini bukan opini.

Ini adalah matematika produksi pangan nasional karya nyata 115 juta petani dan teknokrat pertanian.

Dengan tambahan tersebut, Indonesia jelas berada dalam kondisi surplus. Kebutuhan sekitar 30,5 juta ton beras tidak hanya terpenuhi, tetapi memiliki cadangan yang kuat.

Stok beras pemerintah di Perum Bulog hari ini (13 April 2026) mencapai 4,7 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Ini bukan angka sembarangan. Ini adalah stok negara, dibiayai oleh anggaran negara, dicatat, diaudit BPK, dan dipertanggungjawabkan.

Tidak mungkin angka sebesar ini direkayasa. Karena jika itu terjadi, konsekuensi hukumnya sangat serius. Artinya tidak ada ruang untuk kebohongan dalam angka ini.

Dalam definisi global FAO, swasembada pangan bahkan masih mentoleransi impor hingga sekitar 10 persen.

Artinya posisi Indonesia saat ini sebenarnya sudah sangat kuat. Jika semua fakta ini masih disebut kebohongan, maka masalahnya bukan pada datanya, melainkan pada cara memahami realitas. 

Memang sulit bagi orang awam seperti Feri Amsari memahami angka-angka ini. Tapi tak apa, toh kita semua bisa menikmati beras dari petani negeri sendiri.

Tetapi ketika swasembada disebut bohong dan produksi beras tidak dipercaya, implikasinya sangat jelas membuka ruang impor.

Dan impor berarti mengalihkan kesejahteraan dari petani Indonesia kepada petani negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja.

Di titik ini, pernyataan tersebut tidak lagi netral, melainkan menunjukkan keberpihakan pada pihak asing.

Siapa pun yang menolak swasembada pangan Indonesia, patut diduga mendorong arah impor.

Artinya secara tidak langsung berpihak pada petani asing dan melemahkan petani dalam negeri.

Dalam konteks ini, tidak berlebihan jika muncul dugaan adanya kedekatan dengan kepentingan impor atau bahkan jejaring mafia pangan yang selama ini telah ditindak dengan 76 tersangka yang sudah diproses hukum.

Jika narasi seperti ini terus disebarkan tanpa dasar, bukan tidak mungkin para penggiat pertanian akan menempuh jalur hukum karena ini berpotensi menjadi pembohongan publik.

Perlu juga diluruskan, Feri Amsari bukan profesor. Media tidak seharusnya salah mengutip atau membangun citra akademik yang tidak sesuai.

Jangan sampai publik disesatkan oleh label gelar akademik karena bukan jaminan pasti memahami semua diluar bidangnya.

Pertanian adalah sektor yang kompleks yang menuntut pemahaman lapangan, produksi hingga distribusi.

Jika ingin berbicara pertanian, maka belajarlah terlebih dahulu. Bila perlu kursus kalau sudah berat biaya dan terlalu tua.

Jangan hanya bermodal S2 luar negeri lalu merasa bisa menilai sektor yang begitu luas. Jangan sampai kurang literasi, tetapi sudah berani menuduh bohong di ruang publik.

Jika memang belum memahami, sebaiknya kembali belajar, masuk ke dunia pertanian, memahami sawah, memahami petani agar tidak terus menerus keliru dalam berbicara. Kengeyelan Anda simbol terbatasnya pengetahuan.

Pada akhirnya, kesimpulan dari semua ini menjadi sangat jelas buat kita. Sikap Feri Amsari yang menolak bahkan menuduh swasembada pangan bohong adalah sikap yang melukai 115 juta petani Indonesia, patut diduga motif antek asing pro impor, berpihak pada petani asing dan pengkhianatan terhadap kepentingan bangsa.

Opini Anda berpihak pada petani Thailand, Vietnam, Kamboja, dan negara lain dan ini adalah posisi yang merugikan bangsa sendiri. 

Maka tidak ada pilihan lain. Ayo petani bergerak! Satukan langkah melawan kepentingan asing.

Lawan siapa pun yang melemahkan kedaulatan pangan dengan tangan-tangan bangsa kita sendiri termasuk Feri Amsari! 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Arogansi seolah paham dan menantang debat di ruang publik justru tidak akan memberi simpati dari para petani lokal.

Tidak menutup kemungkinan nanti penggiat pertanian berpotensi melaporkan ke kepolisian karena pernyataan Anda bukti terjadinya pembohongan publik. Tunggu saja.

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Jadwal Final Bulu Tangkis Asian Games 2026: Tim Beregu Putra Indonesia Vs China, Potensi Raih Emas

Jadwal Final Bulu Tangkis Asian Games 2026: Tim Beregu Putra Indonesia Vs China, Potensi Raih Emas

Jadwal final bulu tangkis Asian Games 2026 hari ini Kamis (24/9/2026), di mana tim bulu tangkis beregu putra Indonesia berpotensi meraih medali emas saat berhadapan dengan China di partai final, yang digelar di Ichinoya City Municipal Gymnasium, Aichi, Jepang.
Klasemen Medali Asian Games 2026 Pagi Ini: Tim Indonesia Kalah Gengsi dari Malaysia, Posisi Merah Putih Makin Merosot

Klasemen Medali Asian Games 2026 Pagi Ini: Tim Indonesia Kalah Gengsi dari Malaysia, Posisi Merah Putih Makin Merosot

Klasemen medali Asian Games 2026 hari ini, di mana Tim Indonesia disalip oleh Malaysia yang sudah mengantongi sejumlah medali emas di ajang bergengsi ini.
Jadwal Asian Games 2026, Kamis 24 September: Tim Bulu Tangkis Indonesia dan Eko Yuli Irawan Potensi Raih Emas Hari Ini

Jadwal Asian Games 2026, Kamis 24 September: Tim Bulu Tangkis Indonesia dan Eko Yuli Irawan Potensi Raih Emas Hari Ini

Jadwal Asian Games 2026 hari ini Kamis (24/9/2026), di mana ada final bulu tangkis beregu Indonesia melawan China. Sedangkan lifter senior Eko Yuli Irawan akan unjuk gigi dari cabang olahraga (cabor) angkat besi.
BGN Hentikan Permanen Operasional 4 SPPG, 10.112 Penerima MBG Dialihkan

BGN Hentikan Permanen Operasional 4 SPPG, 10.112 Penerima MBG Dialihkan

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan secara permanen operasional empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
RDTR Wilayah Perencanaan Miangas-Marampit Dibahas, BNPP RI dan ATR/BPN Perkuat Penataan Kawasan Perbatasan

RDTR Wilayah Perencanaan Miangas-Marampit Dibahas, BNPP RI dan ATR/BPN Perkuat Penataan Kawasan Perbatasan

BNPP dan ATR/BPN bahasa sinkronisasi tata ruang pulau-pulau kecil terluar, pengembangan ekonomi, hingga rencana pembangunan infrastruktur di kawasan perbatasan.
Mengapa Koneksi Internet Stabil Penting Saat Puluhan Perangkat Terhubung Bersamaan?

Mengapa Koneksi Internet Stabil Penting Saat Puluhan Perangkat Terhubung Bersamaan?

Ketika puluhan perangkat terhubung bersamaan, WiFi menjadi bagian penting dari operasional cafe. Ini faktor yang perlu diperhatikan sebelum memilih internet

Trending

BGN Hentikan Permanen Operasional 4 SPPG, 10.112 Penerima MBG Dialihkan

BGN Hentikan Permanen Operasional 4 SPPG, 10.112 Penerima MBG Dialihkan

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan secara permanen operasional empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Klasemen Medali Asian Games 2026 Pagi Ini: Tim Indonesia Kalah Gengsi dari Malaysia, Posisi Merah Putih Makin Merosot

Klasemen Medali Asian Games 2026 Pagi Ini: Tim Indonesia Kalah Gengsi dari Malaysia, Posisi Merah Putih Makin Merosot

Klasemen medali Asian Games 2026 hari ini, di mana Tim Indonesia disalip oleh Malaysia yang sudah mengantongi sejumlah medali emas di ajang bergengsi ini.
Jadwal Final Bulu Tangkis Asian Games 2026: Tim Beregu Putra Indonesia Vs China, Potensi Raih Emas

Jadwal Final Bulu Tangkis Asian Games 2026: Tim Beregu Putra Indonesia Vs China, Potensi Raih Emas

Jadwal final bulu tangkis Asian Games 2026 hari ini Kamis (24/9/2026), di mana tim bulu tangkis beregu putra Indonesia berpotensi meraih medali emas saat berhadapan dengan China di partai final, yang digelar di Ichinoya City Municipal Gymnasium, Aichi, Jepang.
Jadwal Asian Games 2026, Kamis 24 September: Tim Bulu Tangkis Indonesia dan Eko Yuli Irawan Potensi Raih Emas Hari Ini

Jadwal Asian Games 2026, Kamis 24 September: Tim Bulu Tangkis Indonesia dan Eko Yuli Irawan Potensi Raih Emas Hari Ini

Jadwal Asian Games 2026 hari ini Kamis (24/9/2026), di mana ada final bulu tangkis beregu Indonesia melawan China. Sedangkan lifter senior Eko Yuli Irawan akan unjuk gigi dari cabang olahraga (cabor) angkat besi.
Gantikan Megawati Hangestri di Red Sparks, Zhong Hui Banjir Dukungan Volimania Jelang Liga Voli Korea 2026-2027

Gantikan Megawati Hangestri di Red Sparks, Zhong Hui Banjir Dukungan Volimania Jelang Liga Voli Korea 2026-2027

Pevoli China, Zhong Hui yang menggantikan Megawati Hangestri sebagai pemain Asia di Red Sparks, mendapatkan banyak dukungan dari volimania jelang bergulirnya Liga Voli Korea 2026-2027.
Kronologi Lengkap Video Mesum 'A Day in My Life' Viral, Pasangan Sesama Jenis yang Dikabarkan Terpapar HIV

Kronologi Lengkap Video Mesum 'A Day in My Life' Viral, Pasangan Sesama Jenis yang Dikabarkan Terpapar HIV

Video mesum a day in my life berseliweran di medsos, dengan banyak potongan pendek video. Namun hal ini masih menunggu keterangan selanjutnya dari Kepolisian.
Red Sparks Resmi Perkenalkan Skuad, Nomor Punggung 8 Warisan Megawati Hangestri Kini Dipakai Pemain Lain

Red Sparks Resmi Perkenalkan Skuad, Nomor Punggung 8 Warisan Megawati Hangestri Kini Dipakai Pemain Lain

Kurang lebih setahun dijaga oleh Ko Hee-jin, kini nomor punggung 8 milik Megawati Hangestri di Red Sparks secara resmi diberikan kepada pemain lain musim depan.
Selengkapnya

Viral