Luis de la Fuente: dari Awalnya Diragukan kini Mencengangkan
- REUTERS - Evrim Aydin/Anadolu
Jakarta, tvOnenews - Spanyol berhasil menduetkan piala. Setelah dinobatkan sebagai juara Piala Eropa 2024, kini, La Furia Roja menjadi juara Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Argentina 1-0 di final. Keduanya di bawah pelatih yang sama, Luis de la Fuente.
Di tangan pria kacamata dan kepala plontos itu, Spanyol kini tak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi, rekor terpanjang yang pernah diraih oleh tim Eropa atau Amerika Selatan mana pun dalam sejarah.
Prestasi serupa sudah dilakukan pada 16 tahun lalu, di mana Spanyol juara Piala Dunia 2010 setelah lebih dahulu juara Piala Eropa 2008. Namun, kedua prestasi yang ditorehkan saat itu di bawah asuhan pelatih yang berbeda.
Ketika juara Piala Eropa 2008, Spanyol dilatih Luis Aragones. Sedangkan, Piala Dunia 2010 diasuh Vicente del Bosque. Lantas, mengapa Spanyol mempercayakan Luis de la Fuente?
Mengutip situs BBC, ketika Spanyol menunjuk de la Fuente sebagai pelatih kepala pada Desember 2022, hanya sedikit yang memperkirakan ia akan mampu menjuarai Nations League (2023), Piala Eropa (2024), dan Piala Dunia (2026) dalam waktu singkat.
Padahal, Spanyol tersingkir dari Piala Dunia 2022 oleh Maroko di babak 16 besar. Federasi Sepak Bola Spanyol butuh pengganti setelah Luis Enrique meninggalkan jabatannya.
"Mereka akhirnya memilih orang ini [Luis De La Fuente] yang memahami gaya dan sistemnya. Itu adalah keputusan yang sangat berisiko. Saya rasa tidak ada yang menyangka dia akan sesukses itu dalam waktu singkat," kata pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Sport.
Terlebih, de la Fuente tidak memiliki pengalaman melatih klub besar. Setelah pensiun sebagai pemain pada 1994, de la Fuente menghabiskan 15 tahun dalam berbagai peran di sejumlah klub yang berbeda, termasuk melatih di liga-liga bawah Spanyol, peran di tim muda, dan posisi asisten pelatih - sebelum ia mengambil alih tim muda Spanyol.
"De la Fuente mengenal sebagian besar pemainnya dari akademi dan mereka berkembang sebagai sebuah tim. Ini bukan hanya tim untuk saat ini, tetapi juga tim untuk masa depan," ungkap mantan gelandang Spanyol Juan Mata kepada BBC Sport.
Sejak diangkat menjadi pelatih kepala setelah sebelumnya memimpin tim U-19, U-21, dan di level Olimpiade, Luis de la Fuente telah menerapkan budaya menghormati lawan, menghormati proses, serta mengajarkan kesabaran dan ketenangan.
"Sebagian besar dari Anda lebih muda dari saya dan Anda perlu menghormati pengalaman," tegas pria berusia 65 tahun itu kepada para jurnalis pada konferensi pers pra-pertandingan di New York, Amerika Serikat (AS), pekan lalu.
Load more