Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
- REUTERS Carlos Barria
Hubungan simbolik antara Maradona dan Messi memang hampir tidak pernah berhenti dibicarakan. Keduanya bukan sekadar dua pemain besar. Mereka adalah dua generasi yang memikul harapan bangsa yang sama. Karena itu, berbagai metafora yang mengelilingi keduanya sering kali bergerak melampaui bahasa olahraga.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris, misalnya, Zlatan Ibrahimovic pernah ditanya mengenai prediksinya atas pertandingan tersebut. Dengan gaya khasnya, ia menjawab, “Inggris dulu kalah oleh tangan Tuhan. Sekarang mereka akan menghadapi kaki kiri Tuhan. Kau tahu bagaimana akhirnya.”
Kalimat itu tentu bukan analisis taktik. Ia adalah metafora. Namun, justru di situlah letak menariknya. Dalam sepak bola Amerika Latin, metafora sering kali memiliki kekuatan yang hampir sama besarnya dengan fakta.
Julukan “Tangan Tuhan”, “Dewa Sepak Bola”, atau “Kaki Kiri Tuhan” tidak dimaksudkan untuk menggantikan Tuhan dalam pengertian teologis. Sebaliknya, istilah-istilah tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat berusaha menjelaskan pengalaman yang terasa melampaui bahasa biasa.
Ketika seseorang memainkan sepak bola dengan cara yang tampak mustahil dijelaskan, bahasa sehari-hari menjadi terasa tidak memadai. Maka lahirlah metafora-metafora religius.
Sepak Bola sebagai Agama Kedua
Fenomena semacam itu tidak muncul secara kebetulan. Secara sosiologis, negara-negara Amerika Latin memang memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan sepak bola. Di Argentina maupun Brasil, olahraga ini sering disebut sebagai “agama kedua” setelah agama yang dianut secara resmi.
Ungkapan tersebut tentu tidak berarti masyarakat mengganti keyakinan religiusnya dengan sepak bola. Tapi yang dimaksud adalah fungsi sosialnya.
Sebagaimana agama menghadirkan identitas, solidaritas, ritual, simbol, dan pengalaman emosional bersama, sepak bola pun menjalankan fungsi-fungsi serupa dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, simbol-simbol religius dan simbol-simbol sepak bola sering kali saling berjumpa tanpa dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan.
Contoh paling menarik adalah keberadaan Iglesia Maradoniana—Gereja Maradona. Didirikan di Rosario pada tahun 1998 oleh Héctor Campomar, Alejandro Verón, dan Hernán Amez, komunitas ini awalnya lahir sebagai bentuk penghormatan kreatif kepada Diego Armando Maradona. Seiring waktu, ia berkembang menjadi komunitas internasional yang anggotanya tersebar di lebih dari seratus negara.
Load more