Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
- REUTERS Carlos Barria
Untuk menjelaskan proses tersebut, Nietzsche menggunakan tiga tahap perkembangan simbolis manusia.
Tahap pertama adalah unta (camel). Unta melambangkan manusia yang memikul beban dan menerima kewajiban sebagai sesuatu yang harus dijalankan. Dalam bahasa alegoris Nietzsche, tahap ini berkata, “Aku harus.” Ia patuh pada aturan, tradisi, dan tuntutan yang datang dari luar dirinya.
Dalam sepak bola, tahap ini dapat dianalogikan sebagai pemain yang menjalankan instruksi pelatih secara disiplin. Ia bermain sesuai peran yang diberikan dan memenuhi ekspektasi yang dibebankan kepadanya.
Tahap kedua adalah singa (lion). Singa berkata, “Aku mau.” Ia mulai menolak belenggu lama dan memperjuangkan kebebasannya sendiri. Keberanian menggantikan kepatuhan.
Jika dianalogikan kepada Messi, tahap ini adalah ketika ia tidak lagi sekadar mengejar kemenangan, melainkan mulai menentukan caranya sendiri untuk menang. Ia tidak sekadar memenuhi sistem; ia mulai memberi arah kepada sistem itu sendiri.
Namun, bagi Nietzsche, tahap tertinggi bukanlah singa. Tahap tertinggi adalah anak (child). Anak melambangkan kreativitas, permainan, rasa ingin tahu, dan kemampuan menciptakan dunia baru tanpa dibebani masa lalu. Anak berkata, “Ya.” Ia menerima kehidupan sebagai ruang penciptaan.
Pada tahap inilah Ubermensch menemukan bentuknya. Sulit menolak kesan bahwa Messi telah mencapai tahap simbolis tersebut. Di lapangan, ia bermain dengan kesungguhan seorang profesional, tetapi sekaligus dengan kegembiraan seorang anak yang sedang menemukan permainan baru. Setiap sentuhan bola tampak lahir dari rasa ingin tahu yang tak pernah selesai. Ia tidak sekadar mengulang pola yang telah berhasil sebelumnya; ia terus mencari kemungkinan baru.
Di balik semua itu bekerja apa yang disebut Nietzsche sebagai Will to Power—kehendak untuk berkuasa. Istilah ini juga sering disalahartikan sebagai hasrat menguasai orang lain. Sesungguhnya, yang dimaksud Nietzsche adalah dorongan paling dasar untuk terus bertumbuh, melampaui diri sendiri, dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru.
Dalam pengertian ini, Messi tidak bermain demi sekadar mengumpulkan gol atau trofi.
Sebagaimana ilmuwan yang terus meneliti bukan hanya demi gelar akademik, atau seniman yang terus berkarya bukan semata mengejar popularitas, Messi memperlihatkan dorongan yang terus-menerus untuk menyempurnakan dirinya sendiri. Rekor yang ia pecahkan bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari proses kreatif yang tidak pernah berhenti.
Load more