Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
- REUTERS Carlos Barria
Namun, sistem sehebat apa pun akan kehilangan daya hidup apabila hanya mengandalkan mekanisme.
Di titik inilah Messi menghadirkan unsur Dionysian. Ia menghadirkan ketidakpastian. Ia merusak pola yang terlalu mapan. Ia menemukan celah yang sebelumnya tidak terlihat. Dribel-dribelnya tampak melawan logika. Pergerakannya sering kali tidak dapat diprediksi. Ia membawa kekacauan ke dalam sistem lawan tanpa pernah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Karena itu, banyak penggemar lawan merasa seolah Barcelona hanya bermain dengan satu pemain: Messi.
Ungkapan itu tentu berlebihan. Namun, hiperbola tersebut memperlihatkan betapa dominannya pengaruh Messi dalam pertandingan. Jose Mourinho, pelatih yang terkenal dengan pendekatan pragmatisnya, pernah mengakui ancaman tersebut. “If you are one against one with Messi, you are dead.”
Kalimat itu bukan sekadar bentuk kekaguman. Messi adalah pengakuan bahwa ada situasi-situasi ketika organisasi pertahanan terbaik sekalipun dapat dihancurkan oleh kreativitas seorang individu.
Messi tidak menolak sistem. Ia menghidupkannya. Ia tidak merusak harmoni. Ia justru membuat harmoni itu bernyawa.
Karena itulah hubungan antara Messi dan Tiki-Taka tidak pernah bersifat subordinatif. Ia bukan sekadar produk dari sistem Guardiola, sebagaimana sering disederhanakan oleh sebagian pengamat.
Sebaliknya, Guardiola dan Messi saling menyempurnakan. Tanpa The Philosopher—julukan Pep, Tiki-Taka mungkin tidak mencapai bentuknya yang paling matang. Tanpa Messi, Tiki-Taka mungkin tidak pernah mencapai keindahan estetikanya yang paling tinggi. Keduanya adalah dua sisi dari revolusi yang sama. Dan revolusi itu mengubah sejarah sepak bola modern.
Messi sebagai Ubermensch: Ketika Seni dan Kehendak, Menjadi Satu
Jika Tiki-Taka merupakan pengejawantahan semangat Apollonian, maka kreativitas Messi adalah ledakan Dionysian yang membuat sistem itu tetap hidup. Namun, hubungan keduanya tidak berhenti pada pertentangan antara keteraturan dan spontanitas. Dalam diri Messi, kedua kutub itu justru bertemu dan melahirkan bentuk baru yang lebih utuh.
Pada titik inilah Nietzsche kembali menawarkan perspektif yang menarik.
Dalam Thus Spoke Zarathustra (1883–1885), Nietzsche memperkenalkan gagasan Ubermensch—manusia yang sanggup melampaui dirinya sendiri. Konsep ini kerap disalahpahami sebagai manusia yang lebih kuat atau lebih berkuasa dibandingkan orang lain. Padahal, yang dimaksud Nietzsche jauh lebih subtil. Ubermensch adalah manusia yang mampu menciptakan nilai-nilainya sendiri; ia tidak sekadar tunduk pada tradisi, tetapi juga tidak memberontak demi pemberontakan itu sendiri. Ia mencipta.
Load more