Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
- REUTERS Carlos Barria
Tentu saja, Iglesia Maradoniana bukanlah agama dalam pengertian formal sebagaimana Katolik atau Islam.
Ia lebih tepat dipahami sebagai ekspresi budaya yang menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk merayakan sosok yang dianggap telah memberi kebahagiaan dan identitas bagi jutaan orang Argentina.
Fenomena itu memperlihatkan satu hal penting.Dalam masyarakat tertentu, batas antara olahraga, mitologi, dan kebudayaan tidak selalu tegas. Tokoh-tokoh olahraga dapat berubah menjadi simbol yang mengikat memori kolektif sebuah bangsa.
Dan setelah wafatnya Maradona, sebagian ruang simbolik tersebut perlahan diwariskan kepada Lionel Messi. Bukan tanpa alasan. Sebab Maradona adalah bapak baptis dari anak-anak Messi. Dan Messi adalah bapak baptis dari cucu Maradona. Dan Messi adalah sahabat karib dari Kun Aguero (mantan pemain Barcelona dan legenda Manchester City), menantu Maradona. Di sini nasab (hubungan kekeluargaan) mereka tak terbantahkan.
Ritual, Totem, dan Lapangan yang Menjadi Ruang Sakral
Mengapa sepak bola mampu melahirkan emosi sedemikian besar? Pertanyaan ini membawa kita kepada salah seorang sosiolog terbesar abad ke-20, Emile Durkheim. Dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912), Durkheim menjelaskan bahwa agama bukan semata-mata persoalan Tuhan atau doktrin. Tapi yang paling mendasar dari agama adalah kemampuannya membangun pengalaman kolektif yang membedakan antara yang profan dan yang sakral.
Sakral adalah sesuatu yang ditempatkan di luar keseharian, dihormati bersama, dan dirayakan melalui berbagai ritual. Jika gagasan itu dipinjam untuk membaca sepak bola, kita akan menemukan banyak kemiripan. Stadion berubah menjadi ruang berkumpul. Lagu kebangsaan dinyanyikan layaknya liturgi. Jersey menjadi simbol identitas. Syal, bendera, dan warna klub memperoleh makna yang melampaui fungsi bendanya.
Sementara pertandingan menjadi sebuah ritual yang menyatukan ribuan, bahkan jutaan orang, dalam pengalaman emosional yang sama. Dalam konteks itu, Messi tidak lagi hanya hadir sebagai pemain. Ia menjelma menjadi sebuah totem—simbol yang menyatukan identitas kolektif masyarakat pendukungnya.
Totem bukanlah objek penyembahan, melainkan lambang yang membuat sebuah komunitas mengenali dirinya sendiri. Ketika ribuan orang meneriakkan nama Messi, yang sesungguhnya sedang mereka rayakan bukan hanya seorang pemain sepak bola, melainkan seluruh ingatan, harapan, dan kebanggaan yang dilekatkan kepadanya.
Karena itulah air mata Messi setelah kekalahan sering kali berubah menjadi air mata jutaan pendukungnya. Sebaliknya, senyum Messi setelah kemenangan terasa seperti kemenangan seluruh bangsa.
Load more