Santri Bersepeda Keliling Afrika | Cerita Kita tvOne
Jakarta – Seorang pria asal Malang, Jawa Timur, Hakam Mabruri, melakukan touring alias bertualang keliling benua Afrika menggunakan sepeda. Hakam menjelajahih empat belas negara di benua Afrika.
Berikut wawancara lengkap tim tvone, Ken Anne dan Dwi Kustantyo:
tvOne : apa kabar mas Hakam?
Hakam : Alhamdulillah baik. Sudah fit. Saya tiba di Indonesia sudah sejak dua minggu yang lalu.
tvOne : Awal mula tercetus ide penjelajahan ke Afrika?
Hakam : Perjalanan ke Afrika adalah impian saya. Sejak saya kecil saya suka liat National Geographic, nah saya ingin melihat langsung pertunjukan pertunjukan alam itu langsung tanpa melewati kaca. Akhirnya saya wujudkan perjalanan ke Afrika. Ini bagian dari impian saya di masa kecil
tvOne : Kenapa afrika?
Hakam : Afrika, menurut saya continental yang seksi dan keren. Banyak oprang bilang afrika itu seram, dari situ saya menggali keindahannya, karena di balik keseraman itu pasti ada yang indah, ada yang keren. Ya seperti mawar, kan ada durinya. Di balik duri itu ada keindahan
tvOne : Memulai perjalanan sejak kapan?
Hakam : Saya terbang dari Jakarta ke Afrika bulan Desember 2019, tapi kalau berangkat dari rumah sejak September 2019. Dari Malang saya bersepeda ke Jakarta, di Jakarta saya mengurus visa-visa negara yang akan saya masuki. Setelah dua bulan selesai, saya terbang ke Mesir, start dari Mesir. Waktu saya di Mesir, belum ada kaya sekarang pandemi ini.
tvOne : Selama perjalanan, tahu tidak ada pandemi Covid 19?
Hakam : Saya baru tahu setelah masuk Sudan, bahwa corona ada juga di Afrika. Saya pikir hanya di Asia saja. Saya mengikuti juga berita-berita mengenai corona, tapi saat di Sudan saya baru tahu corona juga ada di Afrika. Disana juga dilakukan lock down selama beberapa bulan. Selama Sembilan bilan sata tidak bisa keluiar dari Sudan, tapi benar benar saya tidak bisa keluar dari rumah saat di Sudan itu selama satu bulan.
tvOne : Tajuk perjalanan, the glorious santri journey, apa pesan yang dibawa?
Hakam : Pesannya adalah, pertama, untuk orang diluar agama saya, bahwa saya menyampaikan bahwa islam tidak seperti yang digembargemborkan, islam itu radikal, tidak. Islam itu perdamaian. Jadi saya coba bersahabat dengan cara sering baksos di sepanjang jalan, menggunakan bendera NU (Nahdathul Ulama). Saya tidak memandang dia yang saya santuni agamanya apa. Karena islam agama kemanusiaan. Saya juga ngobrol dengan tokoh-tokoh lintas agama.
tvOne : Ini sepedanya? Apa ada kendala?
Hakam : Alhamdulillah sepeda tidak ada kendala, hanya ganti ban. Di setiap negara, saya sering menservis, Ketika ada bengkel besar, saya servis sekalian.
tvOne : Sepedanya dirakit khusus tidak?
Hakam : Sepeda ini tidak dirakit khusus, ini pabrikan untuk city cros urban, hanya untuk hobi dan olahraga saja. Saya cuma pasang rak dan panier bag. Ada peralatan tidur, pakaian, dan peralatan masak di sepeda ini.
tvOne : Apa pesan dan harapan dari perjalanan ini?
Hakam : Untuk teman-teman yang suka touring, pikirkan apa yang bisa dilakukan selama perjalanan. Untuk memberikan kebahagiaan bagi orang orang yang dilalui. (ito)
(Lihat Juga: Gerakan nasional 1 juta sajadah)