Eksplorasi Material Baja dan Life Cycle Thinking Jadi Tren Arsitektur 2026, Indonesia Mulai Tinggalkan Desain Lama
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Perkembangan arsitektur modern di Indonesia kini mulai bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan. Jika dulu pembangunan kota lebih banyak berfokus pada estetika dan kecepatan konstruksi, kini para arsitek dan perencana kota mulai memikirkan dampak jangka panjang bangunan terhadap lingkungan.
Konsep Life Cycle Thinking atau pemikiran siklus hidup bangunan menjadi salah satu pendekatan yang semakin banyak diterapkan, terutama dalam penggunaan material seperti baja lapis (coated steel).
Di berbagai negara maju, pendekatan ini sudah menjadi standar dalam pembangunan kota masa depan. Jepang misalnya, dikenal menggunakan material baja tahan gempa dan mudah didaur ulang untuk mendukung kota yang lebih tangguh terhadap bencana.
Sementara Singapura mengembangkan konsep bangunan hijau dengan material hemat energi guna mengurangi emisi karbon perkotaan. Data World Green Building Council menunjukkan sektor konstruksi menyumbang hampir 39 persen emisi karbon global, sehingga pemilihan material bangunan kini menjadi perhatian utama di banyak negara.
Indonesia perlahan mulai mengikuti arah tersebut. Dalam diskusi “Innovation and Sustainability with Coated Steel” pada ajang ARCH:ID 2026, sejumlah pakar arsitektur menilai eksplorasi material baja dan pendekatan Life Cycle Thinking akan memainkan peran besar bagi masa depan kawasan urban di Tanah Air.
Melansir dari laman resmi, pendekatan ini dinilai penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, kepadatan kota, hingga fenomena urban heat island yang membuat suhu perkotaan semakin panas. Dalam diskusi tersebut, arsitek senior sekaligus juri Indonesia Steel Architectural Award (ISAA) 2026, Doti Windajani, menyoroti pentingnya pemahaman Life Cycle Assessment (LCA) dalam dunia arsitektur modern.
Material bangunan tidak lagi dinilai hanya dari sisi kekuatan atau tampilan visual, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan sejak proses produksi hingga masa pakainya berakhir. Baja disebut menjadi salah satu material yang dinilai lebih berkelanjutan karena dapat didaur ulang hingga 100 persen.
Dalam konsep ekonomi sirkular, baja bahkan bisa digunakan kembali tanpa kehilangan kualitas utamanya. Hal ini membuat material tersebut dianggap lebih ramah lingkungan dibanding material konstruksi lain yang sulit diproses ulang.
Penggunaan baja lapis juga dinilai mampu membantu mengurangi efek urban heat island, yakni kondisi meningkatnya suhu di wilayah perkotaan akibat dominasi beton dan aspal. Kota-kota besar seperti Tokyo dan Seoul telah lebih dulu mengembangkan desain bangunan dengan material reflektif untuk mengurangi penyerapan panas berlebih.
Di Indonesia sendiri, tantangan ini semakin terasa di kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya yang mengalami peningkatan suhu akibat kepadatan bangunan dan minimnya ruang hijau.
Perubahan paradigma desain juga mulai terlihat dalam berbagai proyek arsitektur modern di Indonesia. Finalis Steel Architectural Award 2024, Budi Sumaatmadja, menjelaskan bahwa desain masa kini dituntut mampu menjawab kebutuhan lingkungan sekaligus fungsi ruang publik.
Salah satu contohnya terlihat pada proyek Summarecon Mall Bekasi 2 yang mengeksplorasi penggunaan metal roofing untuk membentuk atap dinamis menyerupai ikan koi. Selain menjadi identitas visual bangunan, struktur tersebut juga dirancang untuk mendukung fungsi ruang publik yang lebih nyaman.
Pendekatan seperti ini sebenarnya sudah banyak diterapkan di negara maju. Bandara Changi Singapura misalnya, menggabungkan teknologi material modern dengan konsep efisiensi energi dan ruang hijau terbuka.
Sementara sejumlah stadion di Australia menggunakan baja lapis tahan cuaca untuk meningkatkan daya tahan bangunan dalam jangka panjang.
Konsep tersebut kini mulai banyak dibicarakan di Indonesia, terutama melalui tema “Shaping Resilient Futures – Timeless Design with Coated Steel” yang diangkat dalam ISAA 2026. Tema ini mendorong arsitek untuk tidak hanya mengejar desain ikonik, tetapi juga menciptakan bangunan yang relevan terhadap tantangan masa depan.
Kepala Badan Penghargaan Arsitektur Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Dill Raaj Singh, menilai baja kini bukan hanya material struktural, tetapi juga medium eksplorasi desain yang fleksibel dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Life Cycle Thinking Jadi Arah Baru Arsitektur Indonesia
Penerapan Life Cycle Thinking diperkirakan akan menjadi tren besar arsitektur Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Pendekatan ini mempertimbangkan seluruh siklus hidup bangunan, mulai dari pemilihan material, proses konstruksi, penggunaan energi, hingga potensi daur ulang setelah bangunan tidak lagi digunakan.
Di Eropa, konsep ini bahkan sudah menjadi bagian penting regulasi pembangunan hijau. Uni Eropa mendorong penggunaan material rendah emisi dan efisiensi energi sebagai bagian dari target net zero emission 2050.
Indonesia sendiri mulai bergerak menuju arah serupa. Melalui berbagai forum arsitektur dan penghargaan desain seperti ISAA 2026, isu keberlanjutan kini semakin banyak dibahas oleh kalangan profesional.
Ajang ini menghadirkan empat kategori utama, mulai dari bangunan residensial, komersial, industrial, hingga bangunan publik dan infrastruktur. Selain itu, terdapat kategori khusus untuk bangunan yang mampu mempertahankan kualitas visual dan daya tahan dalam jangka panjang.
Pemenang terbaik dari Indonesia nantinya akan melaju ke tingkat ASEAN dalam ASEAN Steel Architectural Awards 2026 yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia arsitektur Indonesia mulai bergerak menuju pembangunan kota yang tidak hanya modern secara visual, tetapi juga lebih tangguh, hemat energi, dan ramah lingkungan.
Dalam konteks urbanisasi yang terus meningkat, eksplorasi material baja dan pendekatan Life Cycle Thinking diprediksi akan menjadi salah satu fondasi penting bagi masa depan perkotaan Indonesia. (udn)
Load more