Desa Wisata di Mojokerto Punya Pengelolaan Sampah Plastik Berbasis Energi Surya
- Istimewa
Mojokerto, tvOnenews.com - Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) mengembangkan ekosistem pengolahan sampah plastik berbasis teknologi pirolisis dan energi surya di Desa Wisata Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Program ini mengintegrasikan teknologi pencacahan plastik, pirolisis, refinery, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai upaya mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan, meningkatkan nilai ekonomi material, serta mendukung kemandirian energi desa wisata.
Penelitian Bestari ini bertajuk 'Desain Model Ekosistem Hidup Berbasis Integrasi Pirolisis Plastik dan Energi Surya melalui Ko-Kreasi Multi-Pihak untuk Desa Wisata Mandiri Energi Kembangbelor'.
Program ini memperoleh pendanaan melalui Program Bestari Saintek yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Ketua Tim Pelaksana, Syechu Dwitya Nugraha, menjelaskan bahwa program ini mengintegrasikan reaktor pirolisis dan refinery dengan dua sistem pencacahan plastik. Sistem tersebut mencakup mesin berbahan bakar minyak hasil pirolisis serta mesin berbasis PLTS.
“Melalui sistem ini, plastik dapat diarahkan sesuai dengan karakteristik dan nilai ekonominya, baik sebagai produk cacahan maupun sebagai bahan baku pirolisis. Hasil pengolahan juga berpotensi dimanfaatkan kembali untuk mendukung operasional sistem,” jelas Syechu.
Selain mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, program ini juga mendorong pemilahan dan pencacahan plastik sejak dari sumbernya.
Material seperti botol dan gelas plastik yang telah dipilah dan dicacah berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk awalnya.
Pelaksanaan program ini melibatkan Pemerintah Desa Kembangbelor melalui BUMDes Rukun Sejahtera sebagai mitra utama.
BUMDes berperan dalam mendukung penyediaan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia untuk pengembangan tempat pengolahan sampah plastik terpadu.
Pengelola destinasi wisata Bernah De Vallei dan Klurak Eco Park turut berperan sebagai mitra pendukung dalam membangun rantai pasok sampah plastik yang berasal dari aktivitas wisatawan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah di kawasan wisata sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemanfaatan sampah secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan Pendampingan dan Monitoring Kegiatan Iterasi Program Bestari Saintek yang dilaksanakan pada 19 September 2026, Prof. Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, menyampaikan bahwa pelaksanaan program di Kembangbelor telah menunjukkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan pelaku wisata.
Ia menekankan pentingnya memastikan agar program yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai desa wisata, Kembangbelor juga memiliki peluang untuk mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) sebagai sarana wisata edukasi lingkungan.
Melalui konsep tersebut, masyarakat dan wisatawan dapat melihat secara langsung proses pengolahan sampah serta mengenal penerapan teknologi yang mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Yoggi Herdani, Ketua PMO Bestari Saintek, menekankan pentingnya mengoptimalkan pemanfaatan seluruh produk hasil pirolisis, baik produk minyak maupun char padat.
Melalui integrasi teknologi pengolahan sampah, energi terbarukan, dan pemberdayaan masyarakat, program ini diarahkan untuk membangun model pengelolaan sampah yang dapat memberikan manfaat lingkungan, ekonomi, dan sosial bagi Desa Wisata Kembangbelor.
Program ini diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah plastik, meningkatkan nilai ekonomi material, mendukung kebutuhan energi operasional, serta membuka peluang pengembangan wisata edukasi berbasis lingkungan.
Pelaksanaan program ini didukung oleh kolaborasi lintas perguruan tinggi, yaitu Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan pengelola destinasi wisata dalam mewujudkan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan serta mendukung terwujudnya Desa Wisata Kembangbelor yang mandiri energi.(raa)
Load more