Bencana Pergerakan Tanah di Desa Parakanhonje Tasikmalaya Meluas, Tebing Setinggi 50 Meter Terbelah
- tim tvOne - Denden Ahdani
Tasikmalaya, Jawa Barat - Bencana pergerakan tanah di Kampung Ciomas, Desa Parakanhonje, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya meluas. Saat ini, tebing setinggi kurang lebih 50 meter terbelah setelah diguyur hujan. Jumlah rumah warga yang rusak awalnya berjumlah 35 rumah, kini bertambah menjadi 40 rumah dari jumlah total 80 rumah yang terdampak. Puluhan warga yang was-was saat ini mengungsi ke halaman masjid.
Salah seorang warga yang rumahnya rusak, Karyati (42) mengatakan, ia bersama warga lain mengungsi ke halaman masjid karena khawatir pegerakan tanah meluas, setelah tebing di dekat rumahnya terbelah. Bencana ini terjadi, setelah kampung mereka terus menerus diguyur hujan deras. Warga mengaku, bencana pegerakan tanah separah ini baru terjadi kali ini.
"Ya karena ketakutan aja, takut longsor ya karena pergerakan tanah, jadi warga merasa takut. Intinya sekarang nyari pengungsian yang aman. Kondisinya ya ada yang parah rusak intinya mah gitu, pada retak-retak. Ini gara-gara curah hujan yang tinggi, ini baru kali ini yang parah. Dulu sih pernah, tapi gak separah ini," kata Karyati di lokasi pengungsian, Rabu (05/10/2022).
Warga berharap, pemerintah segera memberikan bantuan, baik renovasi ataupun relokasi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, warga juga meminta bantuan pemasangan alarm peringatan bencana. Agar, ketika terjadi longsor bisa diketahui melalui bunyi alarm.
"Ya pengennya sih ada bantuan, untuk renovasi ataupun relokasi. Selain di masjid, warga ngungsi ke tempat sodara sih kebanyakannya. Pihak desa juga menyarankan agar ngungsi dulu. Walaupun ini masih layak huni ya saya mewakili warga minta alarm kayak peringatan bahaya, jadi jika ada longsor bisa bunyi gitu,"
Sementara itu, Sekretaris Desa Parakanhonje, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Heriyano mengatakan, setelah dilakukan pengecekan ke lokasi, ternyata banyak warga yang was-was dengan kondisi pergerakan tanah saat ini. Pihak Desa berharap, pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secepatnya melakukan kajian dan penelitian di lokasi tersebut. Agar ada kejelasan mengenai layak atau tidaknya permukiman itu ditempati.
"Saya cek lokasi, ternyata banyak warga yang ketakutan. Soalnya kan itu udah retak - retak. Kami atas nama pemerintah Desa mengharapkan pihak geologi segera mengecek kontur tanah ini yang terdampak, supaya ada kejelasan. Masyarakat pun bisa tenang, apakah ini masih layak ditempati atau relokasi," kata Sekretaris Desa Parakanhoje, Hariyano, Rabu (05/10/2022).
Hariyano menambahkan, saat ini yang membuat warga khawatir adalah keberadaan tebing setinggi kurang lebih 50 meter yang sudah terbelah. Pasalnya, di bawah tebing itu terdapat permukiman warga yang berjumlah 40 rumah. Jika tebing itu longsor, maka permukiman akan tertimbun.
"Itu ada tebing kira-kira 50 meter sudah retak besar ya, itu kan di bawahnya permukiman semua, di bawahnya kira-kira 40 rumah. Gak kebayang kalau pegerakan tanah itu menimpa, kan habis itu rumah warga," kata Hariyano.
Jika data awal rumah yang rusak berjumlah 35 rumah, kata Hariyano, tetapi saat ini bertambah menjadi 40 rumah dari total 80 rumah yang terdampak bencana pergerakan tanah tersebut.
"Kemarin datanya ada 35 rumah yang rusak, sekarang bertambah jadi 40 rumah dari total 80 rumah warga yang terdampak," pungkasnya.
Sebelumnya, sebanyak 80 rumah warga di Dusun Ciomas, Desa Parakanhonje, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya terdampak bencana pegerakan tanah, Selasa (27/09/2022). Dari total 80 rumah warga yang terdampak, 35 rumah kondisinya rusak parah dan harus segera diungsikan ke tempat yang lebih aman.
Bencana pergerakan tanah ini terjadi pada, Senin (26/09/2022) setelah kampung tersebut terus menerus diguyur hujan sejak sepekan lalu. Mulanya, retakan tanah hanya terlihat di jalan sekitar permukiman, kemudian retakan tanah merambat ke rumah-rumah warga hingga terjadi ambruk.
(dai/ fs)
Â
  Â
  Â
Â
Load more